Hadis-Hadis Ijarah (Sewa Menyewa) dan Ujrah (Upah/ Gaji)
KEISLAMAN
Ahmad Suhendra
10/27/20262 min read


QUBACA.COM - Sewa-menyewa merupakan kegiatan ekonomi yang sudah ada di sekitar kita. Saat ini kegiatan sewa-menyewa mempunyai bentuk yang beragam. Sewa-menyewa dalam istilah fikih muamalah disebut ijarah. Istilah itu diambil dari kata ta'jir yang terdapat dalam literatur hadis-hadis Nabi Muhammad saw.
Pengertian ijarah secara bahasa berarti upah. Adapun secara istilah syariat Syeikh an-Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain mendefinisikan sebagai berikut:
عقد على منفعة مقصودة معلومة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم
Artinya: “Akad (transaksi) terhadap kemanfaatan yang maqshudah, maklum, bisa untuk diserahkan dan mubah dengan ‘iwadl (upah) yang maklum”
Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad Syamsuddin al-Ghazi al-Qahiri asy-Syafi'i dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib mendefenisikan ijarah sebagai berikut:
وَهِيَ لُغَةً اِسْمٌ لِلْأُجْرَةِ وَشَرْعًا عَقْدٌ عَلَى مَنْفَعَةٍ مَعْلُومَةٍ مَقْصُودَةٍ قَابِلَةٍ لِلْبَذْلِ وَالْإِبَاحَةِ بِعِوَضٍ مَعْلُومٍ.
Artinya:
Berikut adalah beberapa redaksi Arab dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw yang membahas tentang ijarah dan terjemahnya (artinya).
Kewajiban Memberikan Upah Tepat Waktu
Hadis ini menjelaskan tentang perintah menyegerakan pembayaran upah kepada pekerja.
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Artinya: "Berikanlah kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah)
Ancaman Menahan Hak (Upah) Pekerja
Dalam hadis qudsi ini, Allah mengecam keras orang yang mempekerjakan seseorang namun tidak membayarkan upahnya setelah pekerjaan selesai.
قَالَ اللهُ: ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ, وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ, وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ.
Artinya: “Allah SWT berfirman (dalam hadis qudsi): ‘Ada tiga orang yang Akulah musuh mereka di hari kiamat: 1) Orang yang memberikan (sumpahnya) demi nama-Ku lalu berkhianat; 2) Orang yang menjual orang merdeka lalu memakan uangnya (hasil penjualannya); dan 3) Orang yang menyewa (jasa) buruh, ia sudah memanfaatkannya namun tidak membayar upahnya.’” (HR. Bukhari)
Kebolehan Menyewa Jasa Orang yang Ahli
Hadis ini menceritakan tentang kebolehan mempekerjakan (menyewa jasa) seseorang yang ahli meskipun dari kalangan musyrikin saat itu, sebagaimana Nabi ﷺ menyewa penunjuk jalan ketika hijrah ke Madinah.
وَاسْتَأْجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلاً مِنْ بَنِي الدَّيْلِ ثُمَّ مِنْ بَنِي عَبْدِ بْنِ عَدِيٍّ هَادِيًا خِرِّيْتًا
Artinya: "Nabi ﷺ dan Abu Bakar menyewa seorang laki-laki dari Bani Ad-Dail kemudian dari Bani Abdu bin 'Adi, sebagai seorang penunjuk jalan yang sangat mahir." (HR. Bukhari)
Redaksi matan yang lain berbunyi:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَأْجَرَا رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْأُرَيْقِطِ
Artinya: “Sesungguhnya baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar Shiddiq ra pernah menyewa seorang lelaki dari Bani ad-Diil yang bernama Abdullah ibn al-Uraiqith.” (HR. Bukhari)
Memberikan Upah atas Suatu Jasa (Pekerjaan Tertentu)
Hadis ini menjadi dalil akad ijarah terhadap keahlian atau profesi tertentu, seperti bekam.
احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ
Artinya: "Nabi ﷺ pernah berbekam dan beliau memberikan upah kepada tukang bekamnya." (HR. Bukhari)
Redaksi lain juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَجِمُ وَلَمْ يَكُنْ يَظْلِمُ أَحَدًا أَجْرَهُ
Artinya: "Nabi ﷺ pernah berbekam dan beliau tidak pernah menzalimi upah seorang pun." (HR. Bukhari)
Nabi Melarang akad muzaraah dan memerintahkan akad muajjarah
Dalam hadis ini Nabi saw melarang muzaraah dan memerintahkan muajjir (sewa-menyewa)
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَارَعَةِ وَأَمَرَ بِالْمُؤَاجَرَةِ وَقَالَ لَا بَأْسَ بِهَا
Artinya: “Sesungguhnya baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang muzara’ah dan memerintahkan muajjarah (akad sewa). Beliau bersabda, ‘Tidak apa-apa melakukan muajjarah’.” (HR Muslim) (*)
