Tiga Metode Belajar Hadis Menurut Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi
KEISLAMAN
Muhammad Hanifuddin
9/12/20262 min read


QUBACA.COM - Dalam beberapa dekade terakhir, kajian hadis marak digemari. Terlebih oleh masyarakat urban. Tentu, tanpa menafikan tradisi kajian hadis di pesantren dan perguruan tinggi. Semakin meluasnya kajian ini adalah ghirah. Semangat keberagamaan yang baik.
Perlu disyukuri. Dirawat dan dikembangkan lebih lanjut. Tidak ada salahnya, masyarakat muslim mengetahui lebih dekat wasiat-wasiat Baginda Nabi. Sumber syariat kedua setelah al-Qur’an.
Dalam karyanya yang berjudul Qawaid al Tahdits, Syaikh Jamaluddin al-Qasimi (1866-1914 M) mengidentifikasi 3 metode belajar hadis. Masing-masing memiliki kelebihan. Tepat untuk satu orang, belum tentu yang lain. Pertama, metode al-sardu (membaca cepat).
Bentuknya, guru membacakan hadis secara cepat. Mengkhatamkan satu judul kitab. Tanpa disertai penjelasan berarti. Baik dari sisi bahasa ataupun fikih. Termasuk tidak menjelasan nama-nama perawi hadis. Murid fokus menyimak. Mendapatkan sanad.
Kedua, metode al-hall wa al-bahts (mengurai dan meneliti). Setiap selesai membaca satu hadis, diberi jeda. Guru menjelaskan sanad dan matan. Kata yang kurang familiar (ghorib), kedudukan secara gramatikal, dan lain sebagainya.
Di titik ini, ilmu bahasa dan tata bahasa Arab sangat berfungsi. Menjadi basis analisia. Baik ilmu nahwu, sharaf, ataupun balaghah. Termasuk juga mengurai biografi masing-masing perawi. Disertai dengan menyimpulkan makna hadis. Setelah itu, lanjut ke hadis berikutnya. Begitu seterusnya. Hingga mengkhatamkan satu judul kitab. Membutuhkan waktu relatif lebih lama. Dibangding dengan metode pertama.
Ketiga, metode al-im’an (mendalami makna). Mempelajari secara detail, per kalimat. Membahas sisi gramatikal Arab, nahwu, shorof, dan balaghoh. Menyebutkan syawahid dari syair-syair Arab. Mengulas asal kata (isytiqaq) beserta varian penggunaannya.
Dibahas biografi masing-masing perawi. Mulai dari latar belang nasab, rihlah ilmiah, hingga kredibilitasnya. Setelah itu, dikaji masalah fikihnya. Kaitannya dengan ayat al-Qur’an dan riwayat hadis lain. Ditambah lagi dengan kisah-kisah terkait. Tujuannya, pendengar dapat memahami dengan mudah, luas, dan detail. Untuk khatam satu judul kitab, tentu membutuhkan waktu lama. Lebih lama dibanding yang kedua.
Mengutip pendapat 3 ulama hadis sebelumnya; Syaikh Hasan al-‘Ujaimi (1113 H), Maulana Waliyyullah al-Dahlawi (1176 H), dan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi (1194 H), Syaikh Jamaluddin al-Qasimi menegaskan bahwa masing-masing metode ini, memiliki kelebihan dan kecocokan masing-masing.
Metode pertama cocok untuk pangkaji hadis yang sudah pakar. Tujuan pembacaan cepat adalah untuk memperbanyak sanad. Mengambil faidah pembacaan hadis dari banyak guru. Dalam waktu relatif singkat, murid banyak mendapatkan sanad hadis dan judul kitab.
Metode kedua tepat untuk pelajar hadis tingkat menengah. Sedari menyimak pembacaan hadis, mereka akan terbiasa bagaimana ilmu hadis dipraktikan sebagai pisau analisa. Baik analisa matan, ataupun sanad.
Terlebih tekait menimbang kualitas perawi hadis (jarh dan ta’dil). Termasuk kaitan ilmu lain, gramatikal Arab, ushul fiqih, tafsir, dan fiqih. Sedangkan metode ketiga cocok untuk masyarakat awam dan pelajar hadis tingkat pemula. Mengkaji hadis tidak membosankan dan berat. Karena disampaikan dengan ringan. Diselipi dengan kisah-kisah terkait.
Terlepas dari karakter dan kelebihan masing-masing, 3 metode ngaji hadis ini dapat saling melengkapi. Disesuaikan dengan peserta kajian. (*)
