TAMBAKBERAS MENETAPKAN ARAH BARU: Komitmen Kenegaraan NU di Pembukaan Muktamar KE-35

Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas bukan hanya sebagai seremoni. Pidato KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU menjadi porosnya.

Rodia Alfarozie, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat

8/30/20263 min read

QUBACA.COM - Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, 27 Agustus 2026, tidak bisa dibaca sebagai seremoni lima tahunan biasa. Ketika Presiden Prabowo Subianto mengetuk palu pembukaan, di hadapan Wakil Presiden Gibran dan ribuan delegasi, yang terjadi di sana adalah penetapan arah: ke mana NU akan berjalan, dan ke mana bangsa ini akan digerakkan bersama.

Pidato KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU menjadi porosnya. Dan satu hal yang paling mengendap setelahnya: kelakar Presiden saat membuka forum. Dalam kultur Jawa-NU, isyarat seorang kepala negara di hadapan para kiai bukan sekadar humor. Itu restu. Itu sinyal politik. Dan sinyal itu jatuh kepada keberlanjutan.

1. 120 Juta: Dari Kekuatan Menjadi Tanggung Jawab

Gus Yahya membuka pidatonya dengan angka yang memaksa semua orang berhenti sejenak:

"Warga Nahdlatul Ulama di Indonesia ini jumlahnya kira-kira 57 persen dari seluruh penduduk muslim di Indonesia."

Dengan populasi muslim sekitar 244 juta, itu berarti lebih dari 120 juta orang.

Angka sebesar ini rawan disalahgunakan. Bisa menjadi alat mobilisasi, bisa menjadi beban. Karena itu Gus Yahya langsung membingkainya sebagai amanah:

"Ini adalah konstituensi yang sangat besar dan sekaligus tanggung jawab yang luar biasa besar."

Al-Qur’an mengingatkan:

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا}

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" [QS. An-Nisa: 58]

120 juta bukan untuk dibanggakan. Ia untuk diurus. Ia untuk diantar agar program negara benar-benar sampai ke dapur rakyat. Dan yang bisa mengantar itu hanya organisasi yang punya jaringan sampai desa, yang dipercaya, dan yang tidak punya agenda selain khidmah.

2. "Tidak Ada Jalan Lain": Doktrin Kerja Sama

Kalimat paling tajam dari Gus Yahya adalah ini: "Tidak ada jalan lain bahwa organisasi ini harus bekerja sama dengan pemerintah."

Ini bukan politik pragmatis. Ini istiqamah.

Istiqamah pada warisan Muassis. Sejak Resolusi Jihad 1945, NU sudah memilih barisan: bersama negara, menjaga NKRI.

Istiqamah pada realitas. Di era krisis multidimensi, ormas sebesar NU tidak boleh jadi penonton. Harus jadi penyangga.

Yang ditawarkan Gus Yahya bukan hubungan patron-klien. Tapi hubungan fungsional: "Bagaimana ke depan para pengurus NU dapat dikembangkan kinerjanya, dikembangkan kapasitasnya, sehingga akan menjadi penghantar yang lebih efektif dalam membantu membawakan manfaat dari program-program dan agenda pemerintah untuk rakyat kepada rakyat."

Terjemahan sederhananya: negara buat kebijakan, NU yang pastikan sampai. Negara punya anggaran, NU punya kepercayaan. Negara punya visi, NU punya mesin sampai akar rumput.

Ini efisiensi kebangsaan. Dan hanya orang yang tidak mencintai rakyat yang akan menolaknya.

3. Ta’awun: Menawarkan Antidot Polarisasi

Di bagian kedua pidatonya, Gus Yahya mengangkat kembali ruh Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari: ta’awun. "Semua orang berpikir tentang kerja sama, tolong-menolong untuk kepentingan bersama, untuk kekuatan bersama, untuk kemuliaan bersama."

Ini jawaban NU atas zaman yang sedang retak. Ketika politik global dan domestik mengajarkan "menang atau kalah", NU menawarkan "mulia bersama".

Landasannya jelas:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan" [QS. Al-Maidah: 2]

Catat: ada batasnya. Ta’awun NU bukan kompromi tanpa prinsip. Ia adalah kerja sama dalam kebaikan. Dan Gus Yahya menegaskan, nilai ini tidak boleh berhenti di warga NU. Ia harus menjadi etos kebangsaan.

4. Sinyal dari Istana

Yang membuat pembukaan ini berbeda adalah atmosfer politiknya. Presiden hadir. Wapres hadir. Dan di tengah suasana resmi itu, keluar kelakar Presiden yang mengarah dan dipahami semua orang di ruangan. Dalam politik Indonesia, sinyal lebih kuat dari deklarasi. Deklarasi bisa berubah. Sinyal di depan ulama, di forum tertinggi NU, adalah komitmen.

Sinyal itu mengatakan: pemerintah melihat kerja 5 tahun terakhir. Pemerintah butuh mitra yang stabil, bukan mitra yang ribut. Dan mitra itu ada di depan.

Penutup: Tentang Pengabdian, Bukan Kekuasaan

Karena itu Muktamar 35 harus dibaca melampaui soal siapa jadi Rais atau Ketum. Ini adalah peneguhan peran NU sebagai penyangga kehidupan bangsa.

Penyangga dalam arti sesungguhnya: menahan guncangan, menyalurkan kebijakan, menjaga kohesi sosial, dan menggerakkan kemandirian umat.

Gus Yahya menutup dengan doa: "Mudah-mudahan menjadi berkah kita semua." Itu bukan basa-basi. Itu janji.

Dari Tambakberas hari ini, NU berkata dengan tegas: Kami tidak sedang mencari kekuasaan. Kami sedang menawarkan pengabdian.

Dan di titik sejarah ini, ketika bangsa butuh stabilitas dan kerja, pengabdian itulah yang paling mahal harganya.