Perbedaan Ibrah dan Mauizah: Catatan Pengajian Tafsir Dr KH M Afifudin Dimyathi

KEISLAMAN

Khobirul Amru

9/21/2026

QUBACA.COM - Dua kata yang berasal dari bahasa Arab ini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Merujuk KBBI, ibrah diartikan sebagai hal atau kejadian yang dapat dijadikan pelajaran, sedangkan mauizah dimaknai dengan nasihat atau pelajaran. Penggunaan kedua kata ini dalam percakapan sehari-hari pun sering kali tumpang tindih. Seolah yang satu dapat ditukar dengan yang lain: tidak ada acuan pasti.

Misalnya, Anda boleh berkata, "Peristiwa yang kita lihat tadi adalah ibrah bagi kita semua," sebagaimana Anda diperkenankan berkata, "Lihatlah, kecelakaan ini adalah mauizah bagi kita semua."

Dalam kasus tertentu, term ibrah sering digunakan dalam konteks pelajaran yang terkandung dalam sebuah hal atau peristiwa, selaras dengan makna KBBI. Contohnya, kalimat di atas. Sedangkan mauizah, kerap digunakan sebagai sinonim dari nasihat atau pelajaran, senafas dengan makna KBBI. Contohnya, juga kalimat di atas. Atau yang lebih umum didengar, "Sebentar lagi, Kiai Fulan akan menyampain mauizah." Maksudnya, nasihat atau pelajaran.

Tapi, lagi-lagi makna KBBI di atas tidak cukup menjelaskan perbedaan ibrah dan mauizah. Sebagaimana tampak dalam contoh-contoh di atas, juga contoh-contoh lain yang kerap kita dengar dalam percakapan sehari-hari, penggunaan keduanya seenaknya saja. Penutur diberi keluasan sesuka hatinya.

Entah ibrah atau mauizah, keduanya kita temukan dalam al-Qur'an. Dan tentu saja tidak seperti bahasa Indonesia yang menggunakannya secara serampangan, keduanya digunakan dengan intensi yang berbeda. Ada aturan. Ada pola.

Ini sejalan dengan karakter bahasa Arab yang dikenal unik. Ia cukup teliti dalam mengungkapan apapun. Tiga kata yang dianggap sinonim, sering kali tidak dapat digunakan dalam satu konteks yang sama sebab masing-masing memiliki nuansa yang berbeda. Sehingga, ketiganya tidak lagi benar-benar sinonim.

Lalu, apatah lagi dengan al-Qur'an yang mengejutkan para ahli bahasa dengan susunan kalimatnya yang begitu presisi, sebelum membuat mereka takjub dengan maknanya yang tak bertepi?

Dalam konteks ini, Syaikhina menerangkan bahwa dalam al-Qur'an ibrah sering kali digunakan untuh pelajaran yang dapat dimanfaatkan demi kebaikan umat manusia di masa mendatang. Kata kuncinya: masa mendatang. Mari perhatikan beberapa ayat yang memuat term ini.

{ قَدۡ كَانَ لَكُمۡ ءَایَةࣱ فِی فِئَتَیۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةࣱ تُقَـٰتِلُ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةࣱ یَرَوۡنَهُم مِّثۡلَیۡهِمۡ رَأۡیَ ٱلۡعَیۡنِۚ وَٱللَّهُ یُؤَیِّدُ بِنَصۡرِهِۦ مَن یَشَاۤءُۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَعِبۡرَةࣰ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَبۡصَـٰرِ }

[Surat Ali 'Imran: 13]

{ لَقَدۡ كَانَ فِی قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةࣱ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِۗ مَا كَانَ حَدِیثࣰا یُفۡتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصۡدِیقَ ٱلَّذِی بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَتَفۡصِیلَ كُلِّ شَیۡءࣲ وَهُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ لِّقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ }

[Surat Yusuf: 111]

{ وَإِنَّ لَكُمۡ فِی ٱلۡأَنۡعَـٰمِ لَعِبۡرَةࣰۖ نُّسۡقِیكُم مِّمَّا فِی بُطُونِهِۦ مِنۢ بَیۡنِ فَرۡثࣲ وَدَمࣲ لَّبَنًا خَالِصࣰا سَاۤىِٕغࣰا لِّلشَّـٰرِبِینَ }

[Surat An-Nahl: 66]

Ayat pertama menjelaskan pelajaran yang dapat dipetik oleh siapa pun, lebih-lebih mereka yang memiliki penglihatan hati, dari pertemuan dua kelompok di medan perang; yang satu mukmin, yang lain kafir. Yang ini berperang di jalan Allah, yang itu di jalan taghut. Yang ini melawan hawa nafsunya demi meraih rida-Nya, yang itu justru dibutakan oleh hawa nafsunya. Kelompok mukmin ini tak gentar meskipun jumlah pasukan musuhnya dua kali lipat lebih banyak.

Sebagaimana disinggung oleh para mufasir, ayat di atas berkenaan dengan Perang Badar. Dan kita tahu, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada lebih dari 14 abad yang lalu, tetapi ada banyak ibrah, pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sana untuk masa kini. Contohnya, bisa Anda renungkan sendiri!

Ayat kedua, terletak di akhir surah Yusuf. Ayat tersebut menegaskan bahwa dalam kisah para nabi, termasuk Nabi Yusuf yang baru selesai dikisahkan itu, terdapat banyak sekali pelajaran bagi Ulil Albab. Saking banyaknya, tidak sedikit para ulama yang menulis secara khusus tentang hal ini. Yakni kisah-kisah al-Qur'an berikut pelajaran-pelajarannya. Dan ya, Anda bisa memilih sendiri satu potongan kisah Qur'ani dan renungkan pelajaran-pelajarannya untuk masa kini!

Ayat ketiga, menerangkan bahwa dalam penciptaan, struktur anatomi hewan-hewan ternak terdapat ibrah, pelajaran berhaga untuk kehidupan kita di masa kini. Misalnya, Allah Swt Kuasa mengeluarkan air susu murni-jernih dari dalam perut Sapi. Padahal secara anatomi, susu itu berasal dari organ yang berada di antara darah dan kotoran! Min baini fartsin wa damin. Ini pelajaran bagi kita semua, bahwa Allah Swt Kuasa menciptakan individu-individu saleh-muslih di tengah-tengah masyarakat yang amoral dan arogan.

Walhasil, penggunaan kata ibrah dalam al-Qur'an lebih mengarah pada pelajaran yang bermanfaat di masa mendatang. "Pelajaran apa yang bisa kita petik untuk kebaikan hidup kita sekarang dan masa mendatang dari ayat ini atau peristiwa ini," begitu kira-kira.

Bagaimana dengan mauizah?

Syaikhina menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an kata ini kerap kali digunakan dalam konteks memberikan pelajaran tentang sesuatu yang dilarang. Jadi, kata kuncinya: sesuatu yang dilarang.

Perhatikan beberapa ayat yang memuat term mauizah berikut.

{ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ یَعِظُهُۥ یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ }

[Surat Luqman: 13]

{ یَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُوا۟ لِمِثۡلِهِۦۤ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ }

[Surat An-Nur: 17]

{ فَجَعَلۡنَـٰهَا نَكَـٰلࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهَا وَمَا خَلۡفَهَا وَمَوۡعِظَةࣰ لِّلۡمُتَّقِینَ }

[Surat Al-Baqarah: 66]

Ayat pertama, sebagaimana terbaca, mengabadikan mauizah Luqman kepada putranya. "Dan ingatlah ketika Luqman berkata seraya memberikan mauizah kepada putranya," kurang lebih begitu terjemahannya.

Mauizahnya apa?

"Wahai putra kesayanganku, janganlah kamu menyekutukan Allah!"

Ayat kedua, memberikan mauizah kepada orang-orang mukmin agar jangan sampai mengulangi peristiwa seperti yang dialami oleh Sayyidatuna Aisyah radhiyallahu 'anha. Yakni menyebarkan kebohongan, dan diam terhadap kemungkaran. Dua keburukan ini jangan sampai terulang.

Ayat ketiga, berhubungan dengan kisah kutukan kera yang menimpa sebagian Bani Israil. Dalam kisah ini terdapat mauizah bagi orang-orang yang bertakwa. Artinya, jangan sampai mereka melakukan kesalahan yang serupa sehingga dapat berujung pada azab yang serupa pula. Walhasil, mauizah = penyampaian pelajaran terkait sesuatu yang terlarang.(*)