PERAN PENTING AYAH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK.
KHUTBAH JUMAT
KH. Sobrun Jamili, S.Pd.I
10/13/2026


QUBACA.COM - Naskah khutbah berjudul PERAN PENTING AYAH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK. Naskah lengkap khutbah Jumat ini ditulis oleh KH Sobrun Jamili, S.Pd.I. Semoga naskah khutbah ini bermanfaat!
KHUTBAH PERTAMA
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الّذِيْ جَعَلَ الْأَمْوَالَ وَالْبَنِيْنَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا،وَأَمَرَنَا بِتَرْبِيَتِهِمْ عَلٰى مَنْهَجِ الْإِسْلَامِ وَالتَّقْوَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الْعُظْمَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَاوَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْخُلُقِ الْأَسْمَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَعْلَامِ الْهُدَى
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ اِتَّقُوا اللّٰهَحَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَسْؤُولُونَ عَنْ رَعَايَاكُمْ يَوْمَ اللِّقَاءِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فَيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَطِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Sidang Jum’at yang Berbahagia,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Agar kita layak mendapatkan tempat yang mulia disisi-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,
Anak bagi kita adalah anugerah sekaligus juga amanah dari Allah SWT. Kita selaku orang tua wajib mendidik dan menjaganya dalam mengantarkan mereka munuju jalan yang benar dan lurus sesuai fitrahnya. Jika kita ajarkan kebaikan dan kebenaran maka mereka akan berada dijalan lurus menuju keselamatan. Namun jika sebaliknya, maka jalan kesesatanlah yang akan dilalui oleh mereka. Dari Abu Hurairoh ra. Rosuulullah Saw. Bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
"Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. (HR. Buhori dan Muslim)
Saat ini, kita sering terjebak dalam stigma bahwa urusan mendidik anak, menemani bermain, dan membentuk karakter ego anak adalah tugas mutlak seorang ibu. Sementara ayah, sering kali dianggap cukup hanya sebagai mesin pencari nafkah semata. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut oleh para pakar sosiologi sebagai “fatherless country” atau negeri tanpa ayah—sebuah kondisi di mana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis dan spiritual dalam kehidupan anak-anaknya.
Sejatinya Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian. Al-Qur'an memberikan porsi yang sangat besar dalam menggambarkan bagaimana dialog-dialog pengasuhan justru banyak dilakukan oleh seorang ayah.
Dr. Tariq Al-Suwaidan dalam riset statistik dan numerik Al-Qur’an yang dipubikasikan dalam format buku yang berjudul Al-Izazul Adadi fil Qur’anil Karim yang dipublkasikan pada tahun 1990 hingga awal tahun 2000 menyampaikan hasil risetnya:
Bahwa di dalam Al Qur’an ada 17 dialog antara orang tua dan anak. 14 dialog melibatkan peran Ayah, 2 dialog melibatkan peran Ibu, dan 1 dialog melibatkan gabungan kedua orang tua dalam menghadapi anak yang membangkang.
Maka 14 berbanding 2 ini adalah sebuah pesan eksplisit dari Allah SWT. bahwa peran ayah sangat dominan dalam tumbuh kembang anak untuk membentuk karakter anak dalam masalah ketauhidan, ketataan kepada Tuhan, penanaman akhlak dan moral, adab sosial kemasyarakatan, bahkan visi untuk menghadapi masa depan.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya Adalah manusia dan batu…"
Ayat ini merupakan khitab atau seruan yang ditujukan utama kepada para kepala keluarga, yaitu para ayah. Ayah adalah benteng utama, komandan, dan penanggung jawab hitam-putihnya masa depan anak di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga mempertegas tanggung jawab besar ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya... Seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya."
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Jika kita membuka lembaran kitab-kitab para ulama, kita akan mendapati betapa tegasnya mereka dalam menyoroti peran ayah. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Tuhfatul Mauddud bi Ahkamil Maulud menyatakan sebuah kutipan yang sangat menampar kita para ayah:
"Kerusakan yang terjadi pada anak, mayoritas penyebabnya adalah karena kelalaian ayah. Ayah mengabaikan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak sejak kecil, sehingga anak-anak tidak memberikan manfaat untuk diri mereka sendiri dan orang tua mereka saat tumbuh dewasa."
Pendapat ulama ini selaras dengan temuan para pakar pendidikan modern. Berbagai studi psikologi anak menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan kehadiran sosok ayah yang aktif (father-presence) memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi, lebih percaya diri, lebih mandiri, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang jauh lebih baik.
Sebaliknya, anak yang kehilangan figur ayah (baik karena perceraian, kematian, atau ayah yang sibuk bekerja tanpa interaksi) rentan mengalami depresi, kecemasan, penurunan prestasi akademik, hingga terjerumus pada kenakalan remaja dan narkoba. Pakar pendidikan menekankan bahwa ibu memberikan rasa aman dan empati, sedangkan ayah memberikan tantangan, ketegasan, dan mengenalkan batas-batas dunia luar.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mari kita tengok kisah teladan yang abadi di dalam Al-Qur'an. Allah SWT. mengabadikan nama seorang ayah yang bukan nabi, bukan pula raja, namun namanya kekal menjadi nama surah karena kehebatannya dalam mendidik anak. Beliau adalah Luqman Al-Hakim.
Dalam Surah Luqman ayat 13, Allah mengabadikan momen kedekatan Luqman dengan anaknya:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Perhatikan panggilan Luqman kepada anaknya: "Ya Bunayya". Ini adalah panggilan kasih sayang, sebuah panggilan yang melembutkan hati anak. Luqman tidak mendidik dengan membentak, tidak pula mentransfer kurikulum kehidupan dengan penuh amarah. Ia mendidik dengan kedekatan hati, mengajarkan tauhid, akhlak, shalat, dan adab bermasyarakat secara langsung.
Kisah teladan lainnya datang dari Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah ayah yang sangat sibuk, berdakwah melintasi negara dan benua. Namun, ketika beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail, beliau tidak langsung mengeksekusinya secara otoriter. Nabi Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi, meminta pendapatnya secara demokratis. Dialog tersebut diabadikan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orangsabar”
Psikologis yang dibangun Ibrahim membuat Ismail tanpa ragu menjawab
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Ketaatan Ismail lahir dari kualitas pengasuhan Ibrahim yang luar biasa.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Bagaimanakah kita bisa meneladani para tokoh di atas di era modern yang penuh tantangan digital ini? Setidaknya ada 3 peran mendasar yang harus diambil oleh seorang ayah saat ini:
Pertama, Ayah Sebagai Pendidik Iman dan Akhlak (The Spiritual Leader): Ayah harus menjadi teladan utama dalam beribadah. Jangan sampai anak melihat ayahnya jarang ke masjid, gemar berbohong, atau sibuk dengan gawai saat adzan berkumandang.
Kedua, Sebagai Pemberi Kasih Sayang dan Perhatian (The Emotional Anchor): Sempatkan waktu setidaknya 15-30 menit sehari tanpa gangguan apa pun untuk mengobrol, mendengarkan keluh kesah anak, dan memeluk mereka.
Dan Ketiga, Sebagai Penjaga Batasan dan Disiplin (The Coach): Ayah mengajarkan ketegasan, sportivitas, dan hukum sebab-akibat dalam kehidupan agar anak siap menghadapi kerasnya dunia di luar rumah.
Menjadi ayah bukanlah sekadar status biologis setelah pernikahan. Menjadi ayah adalah sebuah profesi ukhrawi, sebuah amanah suci yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah Allah SWT. Mencari nafkah adalah kewajiban yang mulia, namun jangan sampai demi menjamin masa depan finansial anak, kita justru menghancurkan masa depan moral, mental, dan spiritual mereka karena ketidakhadiran kita di sisi mereka.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada para ayah agar mampu mengemban amanah pengasuhan ini dengan baik, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, Qurrata A'yun, dan pembawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan kedua orang tuanya.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ حَدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْعَامًا لَنْ جَعَدَ وَ كَفَرَ وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ وَ حَبِيبُهُ وَ خَلِيلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تسْلِيما كَثِيرًا.أَمَّا بَعْدُ
، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُورِ وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجَمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. قال الله تعالى في القرآن الكريم اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيها اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وَ على آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِي الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا عَلَّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَااتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِبْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
