NU dan Kisah Batu Bara di Halaman Pesantren
OPINI & ISU POPULER
Denny JA
9/13/20263 min read


QUBACA.COM - Di sebuah desa, seorang perempuan mendengar berita dari radio. Nahdlatul Ulama mendapat konsesi tambang. Jauh di bawah tanah, batu bara menunggu digali.
Ia memandang pohon jati di halaman. Tiba-tiba berita ekonomi itu berubah menjadi pertanyaan moral. Berapa harga sebuah kemajuan jika bumi harus membayarnya?
Ia teringat pesantren. Di sana, kiai pernah mengajarkan bahwa tanah bukan sekadar benda, sungai bukan sekadar air, dan bumi adalah amanah yang dititipkan untuk anak cucu.
Malam datang. Perempuan itu pergi ke masjid. Ia tidak membawa jawaban, hanya doa dan kegelisahan yang terlalu besar untuk dipendam sendirian.
Kisah itu terdapat dalam puisi Sri Sunarti berjudul “Batu Bara di Halaman Pesantren”. Puisi tersebut termasuk dalam antologi Nahdlatul Ulama dalam Bingkai Puisi.
Buku ini bukan sekadar kumpulan sajak mengenai organisasi. Ia mencoba sesuatu yang lebih sulit: menangkap NU sebagai pengalaman kebudayaan, ingatan, kegelisahan, doa, dan harapan.
Antologi ini lahir dari kerja sama PWNU Jawa Tengah dan Satupena Jawa Tengah, dengan tim editor Gunoto Saparie, Mufid Rahmat, dan Mohammad Agung Ridlo.
Di dalamnya terdapat 209 puisi dari sekitar tujuh puluh kontributor. Justru banyaknya suara itu menentukan watak buku.
Ini bukan konser seorang penyanyi. Ia seperti paduan suara sebuah kampung besar bernama Nahdlatul Ulama.
Ada kiai dan santri. Ada Muslimat dan guru mengaji. Ada tahlil, qunut, shalawat, kitab kuning, kematian, politik, kekuasaan, teknologi, lingkungan, bahkan pertambangan.
Gaya puisinya juga beragam. Sebagian liris, sebagian naratif. Ada yang religius dan nostalgik, ada pula yang kritis, satiris, sosial, bahkan eksperimental.
Karena itu, NU dalam buku ini tidak diletakkan di podium. Ia diturunkan ke halaman rumah, sawah, masjid, dapur, pesantren, dan kegelisahan manusia biasa.
Kekuatan bentuknya, pada sebagian puisi, terletak pada metafora yang tajam dan ritme liris yang terjaga, mengubah persoalan sosial-politik yang rumit menjadi pengalaman estetik yang menyentuh kesadaran pembaca.
Kekuatan Pertama: NU Diubah dari Organisasi Menjadi Pengalaman
Membaca buku ini berulang-ulang, saya merasakan tiga kekuatan utama.
Kekuatan pertama justru terletak pada perubahan sudut pandang. NU tidak terutama dibaca sebagai struktur organisasi, melainkan sebagai pengalaman manusia.
Organisasi mempunyai kantor, ketua, muktamar, keputusan, dan anggaran dasar. Tetapi kebudayaan mempunyai sesuatu yang lebih dalam: ingatan yang diwariskan tanpa dokumen resmi.
Seorang anak mungkin mengenal NU sebelum mengetahui kepanjangan namanya. Ia mendengar tahlil, melihat sarung ayahnya, dan mengikuti ibunya menghadiri pengajian.
Ia melihat orang sekampung datang ketika seseorang meninggal. Mereka tidak membawa teori tentang solidaritas sosial. Mereka membawa nasi, doa, dan waktu.
Dalam bahasa antropologi, agama memang tidak hidup hanya sebagai doktrin. Ia menjadi sistem makna ketika menjelma simbol, ritual, kebiasaan, hubungan, dan pengalaman bersama.
Di titik inilah karya klasik Clifford Geertz, The Religion of Java, membantu kita melihat sesuatu yang sering luput dari dokumen organisasi.
Geertz memahami kehidupan keagamaan Jawa melalui ritual, struktur sosial, keyakinan, dan keseharian.
Kita boleh memperdebatkan kategorisasi Geertz. Mark Woodward, misalnya, dalam Islam in Java (1989) menunjukkan bahwa batas antara santri, abangan, dan priyayi tidak setegas yang dibayangkan Geertz, sebab arus sufistik telah lama menyatu ke dalam praktik keseharian.
Tetapi satu warisan Geertz tetap bertahan: agama harus dilihat sebagaimana ia sungguh-sungguh dijalani manusia.
Antologi ini melakukan hal serupa melalui sastra. Bedanya, puisi mampu merekam wilayah yang kadang lolos dari etnografi, yaitu getaran batin ketika tradisi berubah menjadi kenangan.
Karena itulah saya menyebut buku ini bukan hanya arsip sastra. Ia adalah arsip perasaan, dokumentasi mengenai bagaimana sebuah komunitas mengalami dirinya sendiri.
Seratus tahun lagi, orang dapat membaca keputusan muktamar dari arsip. Tetapi dari puisi, mereka mungkin akan mengetahui bagaimana suara shalawat terasa ketika senja turun di halaman langgar.
Kekuatan Kedua: Tradisi Tidak Dijadikan Museum
Kekuatan kedua antologi ini adalah keberaniannya mempertemukan tradisi dengan perubahan. Ia mencintai masa lalu, tetapi tidak meminta masa depan berhenti datang.
Ini penting, sebab tradisi dapat mati melalui dua cara. Pertama, ketika ia dibuang. Kedua, ketika ia dipuja sedemikian rupa sehingga tidak boleh berubah sedikit pun.
Tradisi yang hidup berbeda. Ia seperti pohon. Akarnya harus dalam. Tetapi justru karena akarnya dalam, cabangnya berani menyentuh langit yang baru.
NU dalam antologi ini hadir bersama kitab kuning dan teknologi, pesantren dan modernitas, khittah dan politik, shalawat dan persoalan lingkungan hidup kontemporer.
Pertanyaan terpenting bukan lagi apakah tradisi harus dipertahankan. Pertanyaannya adalah: nilai apa yang harus dipertahankan ketika bentuk kehidupan terus berubah?
Di sinilah puisi batu bara memperoleh tempat istimewa. Ia membawa kosakata baru ke halaman pesantren: konsesi, tambang, kekayaan bumi, manfaat ekonomi, dan kerusakan ekologis.
Kosakata ini tidak jatuh dari langit. Ia hadir dalam konteks konkret, ketika pemerintah pada 2024 membuka pintu bagi ormas keagamaan untuk mengelola Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus, dan NU menjadi ormas pertama yang menerima kesempatan itu.
Kebijakan tersebut memantik perdebatan luas, termasuk di kalangan Nahdliyin sendiri, dan puisi Sri Sunarti tumbuh dari kegelisahan itu.
Namun pertanyaan di balik kebijakan tersebut sesungguhnya sangat tua. Apakah kekuasaan tetap menjadi khidmah ketika ia mulai menghasilkan keuntungan material yang sangat besar?
Pertanyaan itu tidak hanya berlaku bagi NU. Ia berlaku bagi gereja, negara, perusahaan, universitas, partai, bahkan organisasi kebudayaan seperti yang saya pimpin.
Setiap institusi akhirnya menghadapi ujian serupa. Semakin besar kekuasaan yang diperoleh, semakin besar kemampuan berbuat baik, sekaligus semakin besar kemungkinan tersesat.
Karena itu, modernisasi tidak cukup diukur dari kemampuan sebuah organisasi memasuki sektor baru. Modernisasi moral terlihat dari kemampuan membangun pagar terhadap dirinya sendiri. (bersambung)
