Membaca Tafsir Al-Qur’an dalam Bingkai Media: Makna, Kuasa, dan Persepsi Publik

Upaya menafsirkan Alquran tidak mudah, mengingat membutuhkan keahlian khusus. Tapi, saat ini orang dengan mudahnya membaca tafsir Alquran ke mesin, AI.  Dengan demikian, bisa terjadi pendangkalan makna Alquran dari tafsir yang diperoleh atau dibaca tersebut.

Nunung Lasmana, MA (Dosen IAT Institut Asy-Syukriyyah)

11/1/20265 min read

A close up of an open book on a table
A close up of an open book on a table

QUBACA.COM - Perkembangan teknologi merubah hampir semua aspek kehidupan. Banyak orang untuk mempelajari sesuatu langsung mengakses internet, baik lewat googling maupun dengan AI. Hal itu menjadikan banyak orang mengakses dan membaca tafsir dan memahami Alquran lewat dunia maya.

Tafsir Al-Qur’an merupakan upaya manusia untuk memahami dan menjelaskan pesan yang terkandung dalam wahyu. Karena dilakukan oleh manusia, tafsir tidak berdiri di luar sejarah atau terbebas dari sudut pandang tertentu. Bahkan, di era ini tidak sedikit juga orang langsung menanyakan penafsiran atau kandungan makna dalam ayat tertentu dari Alquran.

Penafsir menggunakan metode dan perangkat keilmuan, seperti bahasa Arab, hadis, fikih, sejarah, serta pendekatan sosial, untuk menerangkan makna ayat. Latar pendidikan, tradisi intelektual, pengalaman, dan lingkungan penafsir turut memengaruhi pertanyaan yang diajukan serta penekanan yang diberikan.

Upaya menafsirkan Alquran tidak mudah, mengingat membutuhkan keahlian khusus. Tapi, saat ini orang dengan mudahnya menanyakan penafsiran Alquran ke mesin, AI.  Dengan demikian, bisa terjadi pendangkalan makna Alquran dari tafsir yang diperoleh atau dibaca tersebut.

Karena konteks sosial dan kebutuhan zaman juga membentuk cara pesan Al-Qur’an dijelaskan kepada masyarakat. Persoalan yang dianggap penting pada suatu masa dapat mendorong perhatian lebih besar pada tema tertentu, misalnya keadilan, keluarga, pendidikan, atau kehidupan bernegara.

Media kemudian menjadi ruang penting bagi penyebaran penjelasan keagamaan. Surat kabar memuat artikel dan rubrik tanya jawab, sedangkan radio dan televisi menghadirkan ceramah, dialog, maupun program khusus. Kini, situs web dan media sosial memungkinkan penafsiran beredar cepat dalam bentuk tulisan, video pendek, siaran langsung, atau potongan kutipan.

Namun, media bukan sekadar saluran netral. Setiap platform memiliki format, jangkauan, dan kebiasaan penggunaan yang memengaruhi cara suatu penjelasan disajikan. Ruang terbatas dapat mendorong penyederhanaan; durasi siaran dapat membatasi uraian; sementara judul, gambar, pemotongan video, dan algoritma turut menentukan bagian yang terlihat oleh publik.

Karena itu, penting membedakan isi tafsir, pernyataan penafsir, dan kemasan media. Isi tafsir merujuk pada uraian makna ayat beserta landasannya. Pernyataan penafsir dapat mencakup pandangan lain di luar uraian tersebut, sedangkan kemasan media memilih dan menata materi untuk audiens tertentu.

Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak selalu identik. Memahami perbedaan ini membantu pembaca menilai sumber, konteks, dan kelengkapan informasi sebelum membentuk persepsi tentang suatu tafsir atau pandangan keagamaan.

Gambaran publik tentang tafsir Al-Qur’an tidak hanya dibentuk oleh isi penjelasan, tetapi juga oleh cara media memilih dan menyajikannya. Kutipan ayat tertentu atau pendapat seorang mufasir dapat menjadi pusat berita, sementara uraian lain tidak mendapat ruang.

Judul dan narasi menentukan kesan awal: pembaca dapat melihat suatu tafsir sebagai pengetahuan keagamaan, jawaban atas persoalan, atau pernyataan yang mengundang pertentangan. Gambar turut memberi isyarat, misalnya dengan menampilkan suasana pengajian, lembaga keagamaan, atau kerumunan dalam demonstrasi.

Pemilihan narasumber juga berpengaruh karena setiap pihak membawa sudut pandang dan keahlian yang berbeda. Dengan demikian, framing bekerja melalui sejumlah keputusan editorial yang tampak sederhana, tetapi bersama-sama mengarahkan perhatian dan pemahaman pembaca.

Konteks yang disertakan maupun dihilangkan menentukan bagaimana kutipan dipahami. Penjelasan tentang latar sejarah turunnya ayat, metode penafsiran, dan hubungan dengan ayat lain dapat memperlihatkan proses keilmuan yang panjang.

Sebaliknya, jika berita hanya mengambil satu kalimat tanpa menerangkan batas dan tujuan penjelasannya, pembaca mungkin menganggapnya sebagai pandangan tunggal atau aturan yang berlaku tanpa pengecualian.

Penekanan pada konflik dapat menonjolkan perbedaan pendapat sebagai pertentangan tajam, sedangkan perhatian pada kesepakatan dapat menunjukkan landasan bersama di antara para ulama. Kedua pilihan itu bisa relevan, tetapi masing-masing menyusun gambaran yang berbeda. Karena itu, pembaca perlu memperhatikan bukan hanya apa yang dikutip, melainkan juga konteks, sumber, dan bagian yang tidak hadir dalam pemberitaan.

Misalnya, penjelasan atas ayat yang sama dapat terlihat berbeda ketika media menyoroti konteks sejarahnya, perbedaan pandangan ulama, atau perdebatan politik masa kini. Sorotan sejarah dapat menghadirkan tafsir sebagai tradisi keilmuan yang berkembang melalui pembacaan konteks dan metode.

Uraian tentang ragam pendapat dapat menunjukkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari diskusi, bukan selalu tanda perselisihan. Sementara itu, bingkai politik mungkin menempatkan ayat sebagai jawaban atas isu aktual, tetapi dapat pula menyempitkan perhatian pada kontroversi jika latar tafsir tidak dijelaskan.

Tidak satu pun bingkai selalu berlaku atau otomatis keliru; maknanya bergantung pada pilihan materi, kelengkapan informasi, dan tujuan peliputan. Menilai penyajian secara cermat membantu publik membedakan kandungan tafsir dari cara media membangun narasi tentangnya.

Bingkai media tidak sekadar menentukan bagian tafsir Al-Qur’an yang ditampilkan, tetapi juga memengaruhi cara publik menilai siapa yang dianggap berwenang menjelaskannya. Penafsir yang sering dikutip atau tampil di media dapat dipersepsikan sebagai satu-satunya suara yang sah, meskipun tradisi keilmuan Islam mencakup beragam mazhab, metode, dan latar sejarah.

Ketika perbedaan tersebut tidak dijelaskan, keragaman pandangan mudah tampak sebagai pertentangan sederhana antara pihak yang benar dan salah. Padahal, perbedaan dapat berangkat dari metode penafsiran, konteks ayat, atau pertimbangan keilmuan yang berlainan.

Media dapat memberi manfaat besar apabila menghadirkan penjelasan yang kredibel, menyertakan konteks, dan memperkenalkan kekayaan tradisi tafsir kepada khalayak luas. Dengan demikian, masyarakat berpeluang memahami bagaimana ajaran agama dibahas dalam kaitannya dengan persoalan sosial dan politik, tanpa menganggap setiap tafsir sebagai jawaban tunggal.

Namun, format berita atau konten singkat juga dapat mendorong kutipan terlepas dari konteks, penyederhanaan perbedaan, dan penyajian yang sensasional. Klaim keliru dapat tersebar cepat, sementara isu agama yang dibingkai sebagai konflik berisiko memperuncing polarisasi antar kelompok.

Risiko meningkat ketika potongan video atau kutipan viral beredar tanpa rujukan, penjelasan lengkap, maupun kesempatan bagi publik untuk memeriksa sumbernya. Pernyataan seorang penafsir tentang isu tertentu dapat disajikan seolah-olah mewakili seluruh umat atau tradisi, padahal pandangan tersebut mungkin bersifat pribadi dan memiliki batas konteks.

Karena itu, pembaca perlu membedakan penjelasan ilmiah yang disertai sumber dan argumentasi dari opini, materi viral, serta representasi media yang tidak lengkap. Memeriksa latar penafsir, membaca uraian utuh, membandingkan sumber tepercaya, dan memperhatikan konteks sosial membantu membentuk penilaian yang lebih cermat. Sikap kritis bukan berarti menolak media atau tafsir, melainkan memahami batas penyajian dan menghindari kesimpulan tergesa-gesa. Dengan cara ini, perdebatan publik dapat lebih menghargai perbedaan dan berfokus pada mutu alasan, bukan sekadar pada bingkai yang paling menarik perhatian.

Di tengah derasnya arus informasi, pembaca perlu membangun literasi media dan keagamaan agar tidak menerima setiap kutipan tafsir sebagai gambaran utuh ajaran Al-Qur’an. Langkah pertama ialah memeriksa sumber ayat dan rujukan tafsir yang digunakan. Pastikan kutipan sesuai dengan teks aslinya, lalu cari penjelasan mengenai konteks ayat, termasuk hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, latar turunnya ayat bila relevan, serta persoalan yang sedang dibahas. Potongan kalimat yang dilepaskan dari konteks dapat mengubah penekanan makna dan mendorong kesimpulan yang keliru.

Pembaca juga sebaiknya mengenali identitas, latar pendidikan, dan kompetensi narasumber, tanpa menganggap popularitas sebagai bukti keahlian. Bandingkan beberapa penjelasan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti karya mufasir, lembaga pendidikan, atau ulama dengan kapasitas yang jelas.

Keragaman pendapat tidak selalu menandakan adanya pertentangan mendasar; perbedaan dapat muncul dari metode, konteks, dan ruang lingkup pembahasan. Ketika menemukan konten yang provokatif, tahan diri sebelum membagikannya. Periksa tanggal, sumber, dan keutuhan materi, serta pertimbangkan dampak penyebarannya terhadap kelompok yang dibicarakan.

Tanggung jawab literasi juga berada pada media dan komunikator agama. Penyajian tafsir perlu memberi konteks yang cukup, mencantumkan sumber, serta membedakan fakta—misalnya bunyi ayat atau informasi sejarah—dari interpretasi yang disampaikan narasumber.

Jika terdapat lebih dari satu pandangan yang diakui, keragaman itu perlu dijelaskan secara proporsional, bukan disembunyikan demi narasi yang lebih dramatis. Judul hendaknya mewakili isi dan tidak memancing kemarahan melalui klaim yang berlebihan.

Dengan kebiasaan memeriksa, membandingkan, dan menyampaikan informasi secara cermat, ruang media dapat menjadi tempat belajar yang lebih sehat. Penyajian tafsir yang bertanggung jawab memperluas pemahaman publik sekaligus menjaga kompleksitas tradisi keilmuan Al-Qur’an tetap terlihat.(*)