Melepas Kiai Asyhari Abta: Warisan Spiriual dan Teladan Pendidikan di Krapyak

KEISLAMANOPINI & ISU POPULER

Aguk Irawan

10/3/2026

QUBACA.COM - Pagi belum sepenuhnya benderang ketika kabar itu datang pada 24 September 2026. Pukul 04.01, sebuah waktu di ujung tahajud dan awal subuh, KH Absyari Abdullah Tamrin (Kiai Asyhari Abta) melangkah pergi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita kehilangan lagi sebuah jangkar. Seseorang yang dalam sunyi menjaga sebuah konsistensi—atau yang dalam bahasa kaum santri disebut istikamah.

Mengenal beliau adalah sebuah keberuntungan yang tak henti saya syukuri. Saya ingat masa-masa ketika gairah muda sering kali meledak dalam kritisisme yang runcing. Di dalam riuh gerakan kritis Nahdlatul Ulama, seperti Mubes NU, Kiai Absyari tidak hadir sebagai pengetuk palu penghakiman.

Beliau justru hadir sebagai ruang yang lapang.

Beliau mengapresiasi anak-anak muda yang gelisah, yang bertanya, yang menggugat. Bagi beliau, kritik bukanlah tanda makar terhadap tradisi, melainkan tanda bahwa darah kaum muda NU masih mengalirkan daya hidup.

Intensitas pertemuan kami mengental ketika saya mendapat amanah di Lesbumi PWNU, sepanjang dekade 2006 hingga 2016, saat itu beliau diamanahi Rois Syuriah PWNU. Di sanalah, ruang diskusi kami berubah menjadi ruang belajar yang pekat akan makna.

Kami bicara tentang kebudayaan yang mengejawantah, tentang keaswajan yang tidak kaku, hingga akhirnya kegelisahan-kegelisahan itu mewujud dalam lembaran majalah Kalimah.

Saat bertemu itu selalu, kami belajar mengeja pemikiran yang jernih. Ada waktu-waktu yang teduh ketika saya duduk bersimpuh, ikut ngaji bandongan kepada beliau. Menyomak kata demi kata dari kitab Risalah Ahlusunnah Waljamaah karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Di sana saya melihat kharisma yang tidak dibangun dari mimbar yang tinggi atau gemuruh pelantang suara, melainkan dari ketukan kedalaman ilmu yang disampaikan dengan ridha.Namun, kepemimpinan seorang kiai sering kali justru memancar paling terang dalam momen-momen kecil yang tak terduga.

Suatu hari, di sebuah kampung yang terpencil dan jauh dari riuh kota, saya menghadiri undangan mengaji dalam sebuah majelis. Saya terkejut ketika mengetahui bahwa sosok yang dijadwalkan untuk doa penutup adalah Mbah Kiai Asyhari Abta.

Merasa sungkan dan dilingkupi rasa hormat yang teramat sangat kepadanya, saya bergegas memohon kepada beliau untuk mengambil alih seluruh majelis—untuk sekaligus mengaji. Beliau tersenyum, menggeleng lembut, dan menolak dengan cara yang meruntuhkan keangkuhan siapa pun yang menyaksikannya. Beliau berucap lirih, "Masing-masing sudah ada jatahnya, sumangga."

"Sumangga." Sebuah kata pendek, namun di dalamnya termaktub sebuah laku tawadu yang paripurna. Beliau mengajarkan bahwa di hadapan Gusti Allah, setiap manusia memiliki porsi khidmahnya sendiri-sendiri, sungguh pun seorang kiai sepuh tak keberatan menjadi pengiring doa bagi murid mudanya yang sedang membaca kitab.

Beliau tahu kapan harus berdiri di depan, dan kapan harus memberi jalan bagi yang muda dan santri ini dengan penuh takzim. Kini, porsi khidmah almarhum di dunia telah usai, tertunai dengan sangat indah. Kharisma dan keteladanan itu kini menjelma menjadi kenangan yang baka dalam dada kita yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Kiai.

Allahummafghirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu, waaj’alil jannata matswahu... Semoga seluruh amal baik di pangkuan-Nya menjadi pembuka pintu surga, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa dianugerahi ketabahan yang tak bertepi.(*)