Mangayubagya Ide-Ide KH Ma’ruf Amin: Menegaskan Ber-NU ‘Alā Baṣīrah
Buku ini sangat krusial untuk dibaca oleh siapa saja yang mengaku sebagai warga Nahdliyin maupun para peneliti yang mengkaji organisasi Islam tradisional.
OPINI & ISU POPULER
Prof Machasin
8/6/2026


Semalam, kami menghadiri acara launching karya ilmiah bertajuk Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin (Banten: Syekh Nawawi Banten University Press, Mei 2026). Buku karya Hj. Siti Haniatunnisa, LL.B., M.H. dan H. Muhammad Zainal Arifin, S.Pd.I., S.H., M.H. ini hadir dalam tiga bahasa—Indonesia, Arab, dan Inggris—sebagaimana tertera pada sampulnya.
Usai seremoni peluncuran, forum dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang dipandu oleh Prof. Masykuri Abdillah (UIN Jakarta) selaku moderator. Empat orang pembahas diminta menguliti karyanya, yaitu KH Imam Jazuli (PP Bina Insan Mulia Cirebon), Prof. Zainal Abidin (UIN Palu), Prof. Asrorun Niam Sholeh (UIN Jakarta), dan saya sendiri.
Tiga Pilar Utama Ber-NU
Sesuai dengan judulnya, tulisan ini membedah tiga pilar utama dalam pemikiran KH Ma’ruf Amin (KMA):
Fikrah (Pikiran Dasar): Kerangka berpikir warga Nahdliyin yang berlandaskan tawassuṭiyyah (paham moderat/tengah), taṭawwuriyyah (paham dinamis/perkembangan), dan manhajiyyah (metodologis).
Manhaj (Metode): Kesadaran ilmiah untuk senantiasa mempertautkan antara teks (nash), realitas kehidupan nyata, dan kemaslahatan publik.
Harakah (Gerakan): Manifestasi tindakan dan dorongan kolektif dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama.
Ketiga pilar tersebut berakar dari kegelisahan mendalam KMA terhadap fenomena warga yang ber-NU sebatas ikut-ikutan—sekadar meneruskan tradisi keluarga, ajakan kerabat, atau formalitas mengurus organisasi. Bagi KMA, identitas ke-NU-an membutuhkan landasan argumentasi (hujjah) yang kokoh, atau yang beliau istilahkan sebagai ber-NU ‘alā baṣīrah—ber-NU dengan kesadaran penuh, bukan sekadar anut grubyug ora ngreti rembug (mengikuti arus tanpa memahami esensi).
Pentingnya Kesadaran Ilmiah
Secara teknis, buku ini memang ditulis dengan gaya penceritaan (storytelling), cenderung minim analisis kritis, serta masih menyisakan beberapa konstruksi kalimat yang perlu diselaraskan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku. Namun demikian, catatan minor tersebut sama sekali tidak mengurangi nilai strategis isinya.
Buku ini sangat krusial untuk dibaca oleh siapa saja yang mengaku sebagai warga Nahdliyin maupun para peneliti yang mengkaji organisasi Islam tradisional. Keunggulannya tidak hanya terletak pada posisi KMA sebagai pelaku sejarah yang bertindak dan berpikir, tetapi juga pada relevansi gagasannya terhadap ke-NU-an masa kini.
Secara khusus, buku ini memetakan arah pengembangan kiprah NU menyongsong abad keduanya. Memasuki abad kedua khidmahnya, tantangan NU bukan lagi sekadar membesarkan kuantitas warga (warga/jamaah) atau simpatisan, melainkan memperkuat kualitas kesadaran, kedalaman fikrah, ketertiban manhaj, dan efektivitas harakah.
Prinsip ber-NU ‘alā baṣīrah menuntut warga NU untuk melihat dengan pengetahuan, bergerak dengan hujjah, dan berkhidmah dengan kesadaran. Nahdliyin tidak boleh cukup hanya merasa "miliki" NU, melainkan harus paham betul jalan berpikirnya, dasar-dasar metodologinya, dan arah gerakannya. Dengan demikian, tradisi tidak berhenti sebagai kebiasaan turun-temurun semata, melainkan menjadi pilihan sadar yang dijalankan atas dasar ilmu.
Relevansi dan Hikmah
Selesai membaca versi bahasa Indonesianya, ingatan saya terbang kembali pada masa kuliah S-1 Sastra Arab lebih dari 52 tahun lalu saat mendiskusikan konsep hikmah dan matsal. Salah satu definisi hikmah yang saat itu kami perbincangkan adalah:
قول بليغ وجيز يصدر عن تجربة عميقة ويهدف إلى توجيه السلوك الإنساني نحو الخير والصواب. وتنسب دائما لشخص حكيم أو فيلسوف معروف بوعيه.
"Ungkapan indah dan ringkas yang lahir dari pengalaman mendalam dan bertujuan untuk mengarahkan perilaku manusia menuju kebaikan dan kebenaran. Ungkapan ini selalu dikaitkan dengan seorang bijak atau filsuf yang dikenal karena kebijaksanaannya."
Definisi lainnya menyebutkan:
الحكمة: فضيلة تمنع صاحبها من الجهل في القول والعمل، وتصده عن سوء التصرف والمعاملة، وتحذره رذيلة الاندفاع والعجلة، وتُعلِّمه أن يضع كل شيء في موضعه.
"Hikmah adalah suatu nilai moral yang mencegah pemiliknya dari kebodohan dalam perkataan dan perbuatan, menjauhkannya dari perilaku dan pergaulan yang buruk, memperingatkannya agar tidak terjerumus ke dalam sifat terburu-buru dan gegabah, serta mengajarkannya untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya."
Memahami gagasan KH Ma’ruf Amin dalam buku ini rasanya seperti memetik hikmah tersebut: sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual agar kita menempatkan ke-NU-an secara proporsional—berpijak pada ilmu, bergerak dengan kerendahan hati, dan berkhidmah demi kemaslahatan bersama.
Jakarta, 6 Agustus 2026
qubaca.com
Baca Lebih Banyak, Pahami Lebih Dalam.
Beranda-Artikel-Tentang Kami-Kontak
Redaksi
redaksi@qubaca.com
Jakarta, Indonesia
© 2026 qubaca.com-Kanal berita dan artikel terpercaya Anda.
Literasi Tanpa Batas
