Kisah yang Dirindukan: Para Kiai Teladan
Artikel
M. Nailur Rochman
8/16/20262 min read


QUBACA.COM - Kisah ini saya dapatkan saat saya diberi kesempatan sowan beliau KH. Ahmad Musthofa Bisri di ndalem beliau yang bersahaja. Beliau adalah Rais Aam NU tahun 2014-2015 menggantikan KH. Sahal Mahfudz yang wafat pada tahun 2014.
Setelah menyampaikan maksud dari silaturahmi, saya memberanikan diri untuk menanyakan kembali cerita yang sebenarnya sering beliau sampaikan di berbagai acara, khususnya acara NU. Yaitu tentang suasana dimana beliau dimarahi oleh guru beliau KH. Ali Makshum Krapyak Jogja, seorang kiai besar, yang menjadi guru dari para kiai.
“Pripun kyai, kisah panjenengan yang (katanya) dimarahi Kiai Ali?” tanya saya.
Beliau lantas merespon “oh itu.. hehe..” sambil tampak senyuman cerah di wajahnya.
Waktu sepeninggal KH. Bisri Syansuri pada 25 April 1980, singkat cerita terjadilah musyawarah alim ulama yang salah satu agendanya adalah membahas siapa sosok yang pantas menggantikan beliau menjadi Rais Aam.
“Jadi waktu itu, sosok kiai yang dianggap layak menduduki posisi Rais Aam ada 3 kiai sepuh: KH. As’ad Syamsul Arifin Sukorejo, KH. Mahrus Lirboyo dan KH. Ali Makshum Krapyak. Saat itu ada pembahasan terbatas, dan yang sudah hadir saat itu baru 2 kiai, yaitu Kiai As’ad dan Kiai Mahrus.” tutur beliau.
Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus ini lalu melanjutkan bahwa pada saat Kiai As’ad diminta untuk menjadi Rais Aam, beliau menolak. Sampai beliau berucap: “kalaupun malaikat jibril yang datang untuk saya jadi Rais Aam, saya tidak mau!”
Giliran Kiai Mahrus diminta agar bersedia menerima amanah ini, beliau juga menolak dan berkata: “jangankan malaikat Jibril, kalaupun malaikat Izrail yang datang saya tetap tidak mau!”
Karena Kiai Ali belum datang, maka saat itu diputuskan bahwa beliau yang diminta untuk berkenan menjadi Rais Aam. Gus Mus yang hadir saat itu diminta oleh para kiai untuk matur (menyampaikan) hasil ini kepada Kiai Ali Makshum.
"Saat menyampaikan amanah dari para kiai ini, Kiai Ali nduko (marah besar). Saya tidak pernah melihat pak Ali marah seperti itu sebelumnya" kenang beliau.
Sebutan 'pak' untuk kiai Ali memang sudah menjadi panggilan yang biasa digunakan oleh para santri beliau. Abah saya yang juga mondok di krapyak, juga memanggil kiai Ali dengan sebutan pak Ali.
Akhirnya, dengan penuh rasa berat dan merasa tidak pantas, Kiai Ali berkenan menerima posisi tersebut. Dalam forum Munas NU Kaliurang 1981, beliau dietapkan menjadi Rais Aam NU dan menjabat selama tahun 1981-1984.
Satu lagi sosok yang sangat saya kagumi, beliau adalah KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz Kajen Pati.
Saya berkesempatan mondok dan tinggal di kamar ndalem kurang lebih 1 tahun. Saya ikut makan di ndalem, di meja makan tempat beliau dahar (makan). Biasanya saya dan beberapa gus lain masuk ruang makan saat beliau selesai dahar dan bergeser ke depan kamar untuk melanjutkan membaca buku, koran atau kitab-kitab. Membaca adalah jalan hidup beliau, kamarnya penuh dengan buku, tempat tidurnya penuh dengan buku berserakan.
Saya menyaksikan sendiri gaya hidup beliau, pakaian beliau, rumah beliau dan kendaraan yang sehari-hari beliau gunakan. Waktu itu (2003) hanya ada 1 Kijang lawas dan 1 sedan Corona. Saat itu, beliau adalah Rais Aam PBNU 1999-2014 dan Ketua Umum MUI 2000-2014.
Kiai Sahal adalah sosok yang sangat berwibawa.
Sedikit bicara, tapi sangat menginspirasi. Beliau adalah salah satu sosok kiai kharismatik yang dirindukan hari ini. Saya melihat sendiri bagaimana kehidupan beliau, sekalipun menjadi Rais Aam dan Ketua Umum MUI, hidup beliau penuh dengan kesederhanaan. Semua santri Kajen ingin menjadi seperti Kiai Sahal yang santri, intelektual, alim dan efektif ketika bicara. "Kesederhanaannya juga bisa dilihat dari rumah tempat tinggal sehari-hari dan kendaraan. Hal ini juga yang membuat guru-guru di Kajen tidak berani beli mobil lebih mewah dari Kiai Sahal". (*)
Qubaca.com
Baca Lebih Banyak, Pahami Lebih Dalam.
Beranda-Artikel-Tentang Kami-Kontak
Redaksi
redaksi@qubaca.com
Jakarta, Indonesia
© 2026 qubaca.com-Kanal berita dan artikel terpercaya Anda.
Literasi Tanpa Batas
