Ketika Cinta Menjadi Jalan Mengenal Nabi: Pembacaan Ulang Karya Annemarie Schimmel

Annemarie Schimmel menulis buku berjudul Dan Muhammad Adalah Utusan Allah. Karya itu membawa kita ke sejarah Nabi yang berubah menjadi cinta dalam mengenal Nabi.

Fajruddin Muchtar

8/31/20263 min read

QUBACA.COM - Ada buku yang selesai ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru baru dimulai setelah kita meletakkannya—ketika kalimat-kalimatnya tinggal dalam ingatan, lalu perlahan berubah menjadi kerinduan. Dan Muhammad Adalah Utusan Allah karya Annemarie Schimmel termasuk jenis yang kedua.

Buku ini bukan biografi Nabi Muhammad saw. dalam pengertian biasa. Kita tidak sedang diajak menyusuri kehidupan beliau semata-mata sebagai deretan tahun, peperangan, perjanjian, dan peristiwa politik.

Schimmel membawa kita memasuki wilayah yang lebih dalam: bagaimana Rasulullah hidup di dalam hati umat Islam; bagaimana nama beliau disebut dalam doa, dilantunkan dalam syair, digoreskan dalam kaligrafi, dan dirindukan oleh manusia-manusia yang bahkan tidak pernah berjumpa dengannya.

Di tangan Schimmel, sejarah Nabi berubah menjadi sejarah cinta. Ia menelusuri jejak penghormatan kepada Rasulullah dalam berbagai kebudayaan Islam: dari syair Arab hingga puisi Persia, dari tradisi Turki hingga kerinduan kaum Muslim di anak benua India.

Kita bertemu dengan para penyair, sufi, ulama, dan orang-orang sederhana yang memandang Muhammad bukan hanya sebagai pembawa hukum, tetapi juga sebagai cahaya yang menghangatkan kehidupan.

Yang menggetarkan, Schimmel bukan seorang Muslimah. Ia adalah sarjana Barat yang berdiri di luar rumah Islam, tetapi mengetuk pintunya dengan penuh adab. Ia tidak datang dengan tatapan dingin seorang pengamat yang membedah keyakinan orang lain sebagai benda mati. Ia mendekat perlahan, mendengarkan denyut batinnya, lalu menuliskan apa yang ditemukannya dengan simpati yang nyaris terasa seperti cinta.

Karena itulah buku ini secara tidak langsung menegur kita. Seorang perempuan Jerman menghabiskan hidupnya untuk memahami mengapa nama Muhammad membuat jutaan mata berkaca-kaca.

Sementara kita yang sejak kecil mendengar nama beliau, melafalkan shalawat, dan mengucapkan syahadat, kadang membiarkan semuanya menjadi kebiasaan tanpa getaran. Nama itu lewat di bibir, tetapi tidak selalu singgah di hati.

Schimmel memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Nabi bukanlah tambahan kecil dalam kehidupan beragama. Cinta itu merupakan salah satu urat nadi peradaban Islam. Dari cinta lahir kasidah, arsitektur, kaligrafi, hikayat, perayaan Maulid, dan air mata para peziarah di Madinah. Dari cinta pula lahir keberanian untuk meneladani kelembutan, kemurahan hati, kesabaran, dan pengorbanan beliau.

Namun cinta kepada Rasulullah tidak berhenti pada pujian. Shalawat bukan sekadar rangkaian bunyi indah. Menyebut nama Muhammad berarti menerima panggilan untuk menghadirkan kembali akhlaknya: menyantuni yang lemah, membela yang tertindas, memaafkan ketika mampu membalas, serta tetap lembut di tengah dunia yang semakin kasar.

Di sinilah buku ini terasa sangat relevan. Kita hidup pada zaman ketika Nabi Muhammad sering dibicarakan, tetapi belum tentu diteladani. Namanya dibela dengan suara keras, sementara kasih sayangnya kadang dilupakan. Panjinya dikibarkan, tetapi anak yatim, orang miskin, dan tetangga yang kelaparan masih dibiarkan sendirian.

Padahal, mungkin pembelaan paling jujur kepada Rasulullah adalah menjadi manusia yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman.

Membaca buku ini serupa memasuki taman yang dipenuhi aroma dari berbagai negeri. Setiap bangsa menanam bunga cintanya sendiri untuk Nabi yang sama. Bahasa mereka berbeda, irama mereka berlainan, tetapi kerinduannya menuju satu nama: Muhammad.

Nama yang disebut seorang ibu ketika menidurkan anaknya.

Nama yang ditulis seorang penyair dengan tangan gemetar.

Nama yang dilantunkan musafir ketika jalan terasa panjang.

Nama yang membuat Madinah tidak lagi sekadar sebuah kota, melainkan arah pulang bagi hati yang kehilangan ketenteraman.

Schimmel membantu kita memahami bahwa Rasulullah tidak hanya tinggal di dalam kitab-kitab sejarah. Beliau hidup dalam imajinasi, kesenian, ibadah, dan kesadaran umat. Kehadirannya melintasi abad, memasuki bahasa-bahasa yang tidak pernah beliau ucapkan, dan dicintai oleh wajah-wajah yang tidak pernah beliau lihat.

Setelah menutup buku ini, pertanyaan yang tertinggal bukan lagi: seberapa banyak kita mengetahui kehidupan Nabi?

Pertanyaannya jauh lebih sunyi dan mengusik: apakah pengetahuan itu telah membuat kita semakin mencintainya? Dan apakah cinta itu telah menjadikan kita manusia yang lebih penyayang?

Dan Muhammad Adalah Utusan Allah pada akhirnya bukan hanya buku tentang penghormatan umat Islam kepada Nabinya. Ia adalah cermin. Di hadapannya, kita melihat betapa luasnya samudra cinta kepada Rasulullah—dan betapa sedikit yang mungkin telah kita teguk.

Kita pun ingin kembali belajar menyebut namanya, bukan hanya dengan lidah, tetapi dengan seluruh kehidupan. (*)