Jejak Sejarah di Kota-Kota Muktamar NU: Dari Kota Pahlawan hingga Bumi Tambakberas

Nahdlatul Ulama (NU) sedang melangsungkan Muktamar ke-35 di Tambakberas. Jejak muktamar NU dari kota ke kota membawa kesan tersendiri, Dari kota Pahlawan sampai Tambakberas merupakan perjalanan panjang.

OPINI & ISU POPULER

Admin

8/29/20263 min read

QUBACA.COM - Setiap kali perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) digelar, suasana selalu mendadak riuh dan hangat. Muktamar bukan sekadar forum tertinggi untuk memilih jajaran pimpinan PBNU atau merumuskan arah kebijakan organisasi.

Muktamar menjadi sebuah "pesta rakyat" tempat berkumpulnya para kiai, santri, hingga warga Nahdliyin dari pelosok Nusantara. Peristiwa akbar ini membawa berkah tersendiri bagi kota tempat pelaksanaannya. Seperti halnya perhelatan Muktamar ke-35 NU yang kini sedang berlangsung di Tambakberas, Jombang, setiap sudut kota yang pernah disinggahi hajatan besar ini selalu menyimpan sejarah unik tersendiri.

Jika ditarik garis waktu sejak awal berdirinya pada tahun 1926, peta perjalanan Muktamar NU menampilkan jelajah geografi yang sangat dinamis. Kota-kota yang terpilih menjadi tuan rumah bukanlah pilihan acak, melainkan cermin dari dinamika sosial, perkembangan jumlah jamaah, hingga situasi politik nasional pada zamannya.

Surabaya: Sang Rahim Pergerakan

Tidak ada kota yang punya ikatan emosional sekuat Surabaya dengan perhelatan Muktamar NU. Kota Pahlawan ini memegang rekor terbanyak sebagai tuan rumah, yakni sebanyak 6 kali (1926, 1927, 1928, 1940, 1954, dan 1971). Sebagai kota kelahiran NU, Surabaya pada masa awal menjadi pusat koordinasi utama para ulama pendiri seperti Mbah Hasyim Asy'ari dan Mbah Wahab Chasbullah. Tiga muktamar pertama yang digelar secara berturut-turut di Surabaya menegaskan peran strategis kota ini sebagai fondasi awal bertumbuhnya jam'iyah.

Menyebar ke Seluruh Pelosok Jawa

Setelah mengokohkan fondasi di Surabaya, rombongan Muktamar mulai melanglang buana ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Banten secara bergantian menjadi panggung dialektika para kiai.

Di Jawa Tengah, Semarang menjadi salah satu titik awal ekspansi dengan menggelar muktamar pada tahun 1929 dan kembali menjadi tuan rumah pada tahun 1979. Kota Solo mencatatkan rekor 3 kali penyelenggaraan (1935, 1962, dan 2004), sementara kota-kota lain seperti Pekalongan (1930), Magelang (1937), Purwokerto (1946), dan Madiun (1947) masing-masing pernah mendapat kehormatan menjadi saksi sejarah satu kali.

Di Jawa Barat dan Banten, pergerakan NU juga sangat mengakar. Bandung sempat menjadi tuan rumah dua kali pada tahun 1932 dan 1967. Cirebon menggelarnya pada tahun 1931, disusul Pandeglang pada tahun 1938, dan Tasikmalaya yang mencatatkan momen bersejarah pada tahun 1994 di Pondok Pesantren Cipasung.

Sementara itu di Jawa Timur, selain Surabaya, kota-kota berbasis pesantren kuat juga ambil bagian. Banyuwangi menjadi tuan rumah pada tahun 1934, Malang pada tahun 1937, Kediri pada tahun 1999 pasca-Reformasi, dan Situbondo pada tahun 1984 di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo yang monumental karena menjadi tempat penetapan kembali NU ke Khittah 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal. Tidak ketinggalan Yogyakarta juga mencatatkan namanya lewat Muktamar di Bantul pada tahun 1989.

Jakarta dan Penjelajahan Luar Jawa

Sebagai pusat pemerintahan, Jakarta tidak luput dari catatan sejarah Muktamar NU. Ibu kota menggelar perhelatan ini sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1933, 1950, dan 1959. Muktamar di Jakarta kerap kali diwarnai keputusan-keputusan penting terkait peran politik dan kebangsaan NU di level nasional.

Namun, NU tidak hanya memusatkan perhatiannya di Pulau Jawa. Kesadaran untuk merangkul warga Nahdliyin di seberang pulau tercermin dari beberapa perhelatan di luar Jawa:

  • Banjarmasin (1936): Menjadi kota pertama di luar Jawa yang memfasilitasi Muktamar NU, sebuah simbol meluasnya pengaruh jam'iyah ke tanah Kalimantan.

  • Palembang (1952) & Medan (1956): Menegaskan basis massa dan simpul ulama NU yang kuat di Sumatra.

  • Makassar (2010): Menjadi saksi sejarah perhelatan besar NU di Indonesia bagian timur.

  • Lampung Tengah (2021): Menggeliatkan kembali ritme Muktamar di Pulau Sumatra pasca-pandemi.

Jombang: Pulang ke Akar Pesantren

Kini, perhatian seluruh warga NU kembali tertuju ke Jombang. Kota Santri ini mencatatkan sejarah dua kali menjadi penyelenggara muktamar, yakni pada Muktamar ke-33 tahun 2015 dan Muktamar ke-35 tahun 2026 di Tambakberas.

Penyelenggaraan muktamar di kawasan pesantren seperti Tambakberas tidak hanya mengembalikan atmosfer khidmah ke akar tradisinya, tetapi juga membuktikan bahwa denyut nadi NU akan selalu hidup di antara dinding-dinding pesantren dan kearifan para kiai. Dari Surabaya hingga Jombang, deretan kota penyelenggara muktamar ini adalah jejak panjang bagaimana NU terus merawat tradisi, menjaga bangsa, dan menggerakkan peradaban.(*)