Hari Santri & Cinta Negeri
KHUTBAH JUMAT
KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA
10/15/20263 min read


QUBACA.COM - Naskah khutbah berjudul Hari Santri & Cinta Negeri. Naskah lengkap khutbah Jumat ini ditulis oleh KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA. Semoga naskah khutbah ini bermanfaat!
KHUTBAH PERTAMA
اَلسَّلَامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ مَكَانًا عَلِيًّا.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مَنْ هُوَ خَيْرُ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبْيًّا.
أَللّٰهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَادِقِ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.
أّمَّا بَعْدٍٍٍٍٍٍُ.فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ،أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ تَنْزِيْلِهِ : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh
17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Agresi Militer Belanda Kedua yang membonceng tentara Sekutu (Inggris) untuk kembali menjajah Indonesia, pasca kekalahan Jepang, memantik kesadaran para ulama dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang belum lama diproklamirkan. Melalui Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadhratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari (selaku pendiri Nahdlatul Ulama/NU) pada tanggal 22 Oktober 1945, perlawanan ulama, kaum santri dan segenap rakyat menentang penjajah Belanda berkobar di seantero negeri. Puncaknya, meletuslah pertempuran hebat antara kaum santri dan pasukan Belanda di Surabaya, pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Dari episode sejarah bangsa Indonesia tersebut di atas, dan episode panjang lainnya dari perjuangan ulama dan kaum santri untuk negeri ini, akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, perjuangan ulama dan kaum santri diakui oleh Pemerintah Indonesia, dengan diperingatinya Hari Santri Nasional pada setiap tanggal 22 Oktober, meski baru 70 tahun setelah episode sejarah Fatwa Resolusi Jihad berlalu. Alhamdulillah, jasa dan peran serta keberadaan pesantren pun semakin diakui dan diapresiasi dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2019.
Jama’ah yang mulia
Perjuangan ulama dan kaum santri tidak lepas dari doktrin luhur yang terpatri di dalam sistem nilai keislaman, yaitu Hubbul Wathan minal Îmân, Cinta Tanah Air adalah Manifestasi Keimanan. Ia bukanlah sebuah redaksi dari hadits Nabi, bukan pula redaksi dari ayat suci Al-Qur`an. Namun, doktrin Hubbul Wathan minal Îmân yang digagas dan dicetuskan oleh Hadhratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) ini selaras dan senapas dengan hadits Nabi dan ayat suci Ilahi.
Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan kehangatan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan, sehingga siapapun yang berusaha menjajah dan mengusir dari tanah air tersebut, Islam memerintahkan untuk melakukan pembelaan dan perlawanan.
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”
(Al-Mumtahanah: 8)
Dari ayat di atas kita pahami bahwa al-Qur`an mensejajarkan antara agama dan tanah air. Al-Qur`an memberi jaminan kebebasan beragama, sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka dan berdaulat. Maka jelas sekali, cinta kepada tanah air adalah bagian integral dari cinta kepada agama.
Zumratal Mu`minîn akramakumullâh
Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah Saw. pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahirannya, Makkah al-Mukarramah. Beliau bersabda:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُوْنِيْ مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Betapa baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau adalah negeri yang paling kucintai. Andai kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), tentu aku tidak tinggal di negeri selainmu. (HR. Ibnu Hibban)
Setelah pengusiran tersebut, Nabi saw. lantas hijrah ke kota Yatsrib, yang di kemudian hari beliau namakan dengan Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah Saw. pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Di dalam Shahih al-Bukhariy doa beliau itu terekam:
اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, bahkan lebih (HR. Al-Bukhari)
Jama’ah shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT
Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri yang tumbuh dari nurani keimanan manusia. Orang yang mencintai sesuatu, apapun itu, termasuk Tanah Air, maka ia akan memelihara dan merawat apa yang ia cintai. Ia akan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada apa yang ia cintai itu. Ia selalu bersedia berkorban untuk kemaslahatan dan kepentingan yang ia cintai itu. Ia akan melindungi apa yang ia cintai itu. Ia tidak akan mengkhianati dan menodai cintanya itu dengan segala hal dan perbuatan yang merusak dan menghancurkan apa yang ia cintai itu. Begitulah seharusnya cinta kita terhadap Tanah Air kita ini, Indonesia.
Akhirnya, semoga doktrin Hubbul Wathan minal Îmân yang kita warisi dari para ulama dan kaum santri para pejuang negeri terdahulu, etos juangnya dapat senantiasa kita rawat dan kita pupuk, agar terus tumbuh berkembang dan menghasilkan aneka buah pembangunan Indo.nesia, yang hasilnya dapat kita nikmati bersama, dan juga kita wariskan kepada anak cucu kita, generasi penerus bangsa, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ حَدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْعَامًا لَنْ جَعَدَ وَ كَفَرَ وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ وَ حَبِيبُهُ وَ خَلِيلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تسْلِيما كَثِيرًا.أَمَّا بَعْدُ
، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُورِ وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجَمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. قال الله تعالى في القرآن الكريم اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيها اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وَ على آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِي الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا عَلَّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَااتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِبْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
