Gus Dur dan Gontor

KH Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Presiden ke-4 RI. Sementara itu, Gontor adalah lembaga pendidikan Islam berupa pondok pesantren yang identik dengan nilai-nilai modern.

OPINI & ISU POPULER

Khairul Fata

8/22/20262 min read

QUBACA.COM - Gus Dur masyhur sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas tentang nasab atau genealogi keluarga. Pengetahuannya tidak terbatas pada silsilah keluarganya sendiri. Tapi juga mencakup hubungan kekerabatan dan jaringan nasab para ulama, tokoh pesantren, serta tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam di Nusantara.

Bagi Gus Dur, pengetahuan tentang nasab bukan sekadar pengetahuan genealogis, melainkan juga menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan orang lain. Gus Dur kerap menjadikan pengetahuan tersebut sebagai jembatan untuk mencairkan suasana dalam sebuah pertemuan.

Dengan mengungkap hubungan nasab, guru-murid, maupun keterkaitan antarkeluarga, ia mampu menemukan titik temu dengan lawan bicaranya. Percakapan yang semula terasa formal pun menjadi lebih akrab karena masing-masing menemukan hubungan historis dan emosional. Dalam hal ini, pengetahuan Gus Dur tentang nasab dapat dipandang sebagai salah satu instrumen diplomasi sosialnya.

Hal tersebut juga terlihat dalam hubungan Gus Dur dengan keluarga pendiri Gontor. Salah satu pintu kedekatan itu adalah hubungan antara ayahnya, KH Wahid Hasyim, dengan KH Imam Zarkasyi (salah satu Trimurti Gontor).

Keduanya pernah berada dalam medan perjuangan yang sama, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun dalam Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah. Hubungan historis tersebut menjadi salah satu fondasi bagi Gus Dur dalam membangun kedekatan dengan keluarga besar Gontor.

Kedekatan itu semakin menguat tatkala, Paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim atau Gus Ud, “nyantri” kepada KH Imam Zarkasyi, baik melalui pelatihan Laskar Hizbullah di Cibarusah Bekasi maupun saat Gus Ud nyantri di Gontor, meski hanya beberapa bulan. Relasi tersebut menjadi bagian dari jejaring historis yang mempertemukan keluarga Gus Dur dengan keluarga pendiri Gontor.

Ikatan tersebut berlanjut ke generasi berikutnya, Gus Dur memiliki kedekatan dengan K.H Abdullah Syukri Zarkasyi, ketika keduanya sama-sama pernah menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir. Di samping itu, Gus Dur juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga KH Hasan Abdullah Sahal melalui relasi guru-murid antara Gus Dur dan KH Abdul Mukti Ngawi, mertua KH Hasan Abdullah Sahal.

Bagi Gus Dur, K.H Abdul Mukti—yang dikenal sebagai salah satu inisiator berdirinya NU di Ngawi—merupakan salah satu guru politiknya. Jejaring hubungan semacam inilah yang memungkinkan Gus Dur menemukan banyak titik temu dengan keluarga besar Gontor.

Tidak berhenti pada hubungan antar generasi dan jaringan guru-murid, Gus Dur juga dapat menemukan titik temu melalui sejarah leluhur kedua keluarga. Dalam tradisi nasab pesantren, terdapat relasi historis yang menghubungkan Kyai Ageng Muhammad Besari, salah satu leluhur keluarga pendiri Gontor, dengan Kyai Basyariyah Sewulan, yang dikenal sebagai murid kinasih Kyai Ageng Muhammad Besari dan berada dalam garis leluhur Gus Dur. Jejak sejarah tersebut menjadi salah satu simpul yang mempertemukan dua keluarga besar dalam tradisi pesantren Jawa.

Bagi Gus Dur, berbagai hubungan tersebut tentu bukan sekadar catatan sejarah. Nasab, jaringan guru-murid, pengalaman perjuangan, dan hubungan antarkeluarga merupakan modal sosial sekaligus pintu masuk untuk membangun persaudaraan. Melalui titik-titik persamaan tersebut, Gus Dur mampu menciptakan suasana yang lebih cair, akrab, dan penuh kehangatan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Baginya, nasab bukan sekadar simbol kebanggaan genealogis, melainkan dapat menjadi jembatan persaudaraan dan sarana untuk merawat hubungan antarkeluarga besar Islam Indonesia.

Semangat tersebut sejalan dengan spirit persaudaraan yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah hadis disebutkan:

صِلْ بَيْنَ النَّاسِ إِذَا تَفَاسَدُوا، وَقَرِّبْ بَيْنَهُمْ إِذَا تَبَاعَدُوا

“Sambungkan (perbaiki) hubungan di antara manusia ketika mereka telah berselisih, dan dekatkan mereka ketika mereka saling menjauh.” (HR. Al-Bazzar).*

Ingin iklan? hubungi kami segera!