Dilestarikan Dulu, Baru Diobati: Memahami Surat Al-Furqan Ayat 1
Ada pertanyaan menarik terkait firman Allah SWT dalam surat Al-Furqan [25] ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut, “Alhamdulillah alladzi nazzala al-furqan ‘ala ‘abdihi liyakuna lil ‘alamina nadzira.”
Khobirul Amru
9/22/2026


QUBACA.COM - Ada pertanyaan menarik terkait firman Allah SWT dalam surah al-Furqân [25]: 1 yang berbunyi sebagai berikut, “Alhamdulillah alladzi nazzala al-furqan ‘ala ‘abdihi liyakuna lil ‘alamina nadzira.”
Mengapa pada ayat ini Allah hanya menyebut nadzir (pemberi peringatan) sebagai satu-satunya alasan diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad?
Bukankah baik al-Qur’an maupun Nabi Muhammad menyandang sifat lain yaitu basyir (pembawa kabar gembira), bahkan sifat ini seringkali disandingkan dengan sifat nadzir itu, sebagaimana tersebut dalam sejumlah ayat al-Qur’an seperti al-Baqarah [2]: 119 dan Fushshilat [41]: 3-4?
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّلَا تُسْـَٔلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ ١١٩
"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Nabi Muhammad SAW) dengan haq (benar dan membawa kebenaran, sebagai) pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan engkau (Nabi Muhammad SAW) tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang para penghuni neraka."
كِتٰبٌ فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَۙ ٣ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۚ فَاَعْرَضَ اَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ ٤
"Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan secara terperinci. (Yakni) al-Qur’an dalam bahasa Arab (yang merupakan petunjuk) untuk kaum yang (mau dan mempunyai potensi untuk) mengetahui. (Al-Qur’an adalah) pembawa kabar gembira (bagi orang-orang mukmin) dan pemberi peringatan (bagi kaum pendurhaka), (tetapi kaum musyrik Makkah enggan mengerti), maka kebanyakan mereka berpaling, sehingga (akibatnya) mereka tidak mendengar (tidak menyambut kabar gembira dan peringatan itu)."
Jawabannya, menurut Syekh Zâdah, hal ini berkaitan dengan tujuan utama dan mendasar diutusnya Nabi Muhammad dan diturunkannya al-Qur’an. Menurut beliau, tujuan utama dan mendasar keduanya adalah memberi peringatan. Menurutnya, ini dapat dianalogikan dengan seorang dokter yang berupaya mengobati penyakit hati.
Alih-alih langsung memberi minum obat, si dokter tentu terlebih dahulu perlu mensterilkan pikiran, jiwa dan hati si pasien dari berbagai jenis penyakit, mulai dari keyakinan-keyakinan melenceng, akhlak-akhlak tercela, hingga amal-amal buruk. Untuk merealisasikan upaya sterilisasi ini, si dokter memberi “minuman indzâr”, sebuah minuman yang dapat menyadarkan pasien tentang betapa buruknya perkara-perkara tersebut.
Setelah dirasa steril dari berbagai virus tersebut, barulah pasien diberi obat yang dapat meneguhkan hatinya dalam menjalankan berbagai jenis ketaatan. Untuk ini, si dokter pun memberi “minuman tabsyir” yang dapat meyakinkan pasien tentang betapa indahnya amal-amal kebajikan itu.
Ilustrasi di atas serupa dengan dokter yang berupaya mengobati penyakit jasmani. Sebelum melakukan pengobatan, ia tentu akan mensterilkan badan si pasien dari berbagai virus-bakteri yang merusak.
Jawaban ini bersesuaian dengan tugas yang dibebankan oleh Allah kepada Nabi Muhammad pada fase awal kenabiannya. Saat itu Dia memerintahkan Nabi untuk fokus memberi peringatan “saja”, karena ada banyak hal yang perlu disterilkan dulu dari audiennya, masyarakat Makkah dan sekitarnya.
Allah berfirman dalam surah al-Muddatstsir [74]: 1-2 yang merupakan surah kedua/keempat menurut urutan nuzûlî:
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ ١ قُمْ فَاَنْذِرْۖ ٢
"Wahai (Nabi Muhammad SAW) yang berselimut! Bangkitlah, lalu berilah peringatan!"
Referensi:
Hâsyiyah Syeikh Zâdah 'alâ Tafsîr al-Baydhâwî (bagian mukadimah), vol. 1, 10-11.(*)
