Dari Krapyak ke Kudus: Teladan Mbah Kiai Munawwir Sebagai Guru

OPINI & ISU POPULER

Nanang Niamillah Asyrofi

9/19/20263 min read

QUBACA.COM - Kalau kamu ingin mengambil ilmuku, belajarlah kepada Arwani, Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi kalau yang mengucapkannya adalah seorang ulama besar seperti KH Muhammad Munawwir Krapyak, maka kalimat itu menjadi sangat dalam.

Sebab seorang guru besar biasanya tidak mudah menunjuk seseorang untuk menjadi rujukan. Apalagi menunjuk muridnya sendiri. Namun Mbah Munawwir melihat sesuatu dalam diri KH Arwani Amin Kudus.

Sesuatu yang kelak membuat nama Arwani dikenal sebagai salah satu ulama Al-Qur'an besar di Nusantara. Dan dari sinilah kita bisa melihat bagaimana sebuah sanad ilmu berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ada kisah menarik tentang awal pertemuan KH Arwani Amin dengan Mbah Munawwir. Arwani muda datang ke Krapyak. Tetapi kedatangannya bukan semata-mata karena sejak awal ia sudah berniat menjadi ulama Al-Qur'an.

Ia datang bersama adiknya, KH Da'in Amin, yang hendak belajar dan menyetorkan bacaan kepada Mbah Munawwir.

Arwani menunggu. Dan sebagaimana sering terjadi dalam perjalanan hidup seorang santri, sesuatu yang awalnya hanya "menunggu" justru menjadi awal dari perjalanan panjang. Ia kemudian tertarik belajar kepada Mbah Munawwir.

Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.Ayat demi ayat. Sampai akhirnya hubungan murid dan guru itu menjadi sangat dalam.

Arwani Amin bukan hanya belajar menghafal Al-Qur'an. Beliau mendalami qira'at, ilmu bacaan Al-Qur'an yang memiliki sanad dan disiplin keilmuan yang sangat ketat. Di Krapyak, beliau belajar kepada Mbah Munawwir.

Dan kelak setelah kembali ke Kudus, ilmu itu beliau ajarkan lagi. Dari tangan beliau kemudian lahir tradisi besar pengajaran Al-Qur'an di Kudus. Nama Yanbu'ul Qur'an pun kelak menjadi salah satu simbol penting pendidikan Al-Qur'an di kota ini.

Maka jika hari ini orang Kudus mengenal tradisi tahfidz dan qira'at yang begitu kuat, kita tidak boleh melupakan mata rantai panjang yang ada di belakangnya.

Ada guru. Ada murid. Ada sanad. Ada pengorbanan. Dan salah satu nama penting di ujung mata rantai itu adalah: Mbah Munawwir Krapyak.

Yang menarik dari kisah ini bukan hanya siapa guru dan siapa murid. Tetapi bagaimana seorang ulama besar tidak takut muridnya menjadi lebih terkenal daripada dirinya.

Ini pelajaran yang sangat mahal. Guru sejati tidak sibuk mempertahankan popularitas. Guru sejati justru bahagia ketika muridnya berhasil. Mbah Munawwir tidak mengatakan:

"Semua harus tetap belajar kepadaku."

Tetapi justru mendorong ilmu untuk terus mengalir. Karena ilmu yang berhenti pada seorang guru akan mati bersama guru itu. Tetapi ilmu yang diwariskan kepada murid akan terus hidup.

Dan ternyata benar Mbah Munawwir wafat. Tetapi Arwani terus mengajar. Mbah Arwani wafat. Tetapi murid-muridnya terus mengajar. Murid-murid itu kemudian mempunyai murid lagi. Begitu seterusnya.

Sampai akhirnya sanad yang dahulu berpangkal pada majelis Mbah Munawwir di Krapyak, terus terdengar di banyak pesantren Al-Qur'an. Inilah yang disebut barakah sanad. Bukan sekadar siapa pernah belajar kepada siapa. Tetapi bagaimana ilmu itu dijaga, diamalkan dan diwariskan.

Ada sesuatu yang kadang kita lupakan. Ketika melihat seorang kiai besar, kita hanya melihat orang yang ada di depan. Padahal di belakangnya ada guru yang tidak terlihat. Di belakang guru itu ada guru lagi. Terus ke belakang. Sampai akhirnya bersambung kepada generasi ulama terdahulu.

Karena itu, ketika KH Arwani Amin membaca Al-Qur'an, yang hadir bukan hanya suara seorang ulama Kudus. Ada warisan ilmu dari Krapyak. Dan ketika murid-murid Arwani membaca Al-Qur'an, suara itu terus membawa jejak gurunya. Begitulah sanad bekerja. Tidak selalu terlihat, tetapi terus mengalir.

Mbah Munawwir sendiri menempuh perjalanan panjang sebelum menjadi guru. Beliau pergi ke Tanah Suci.

Bertahun-tahun menuntut ilmu. Mengaji. Menghafal. Mendalami qira'at. Mendapatkan sanad. Kemudian pulang ke tanah air. Dan beliau tidak pulang untuk mencari kehidupan yang nyaman. Beliau pulang untuk mengajar. Mendirikan pesantren. Menerima santri. Membimbing mereka. Dan akhirnya melahirkan generasi ulama Al-Qur'an.

Barangkali inilah alasan mengapa nama Mbah Munawwir tidak pernah benar-benar hilang. Karena beliau tidak membangun kebesaran dengan dirinya sendiri. Beliau membangun kebesaran melalui murid-muridnya.

Dan salah satu murid yang paling bercahaya itu adalah seorang putra Kudus: KH Arwani Amin. Dari Krapyak menuju Kudus. Dari Munawwir menuju Arwani. Dari Arwani menuju murid-muridnya. Dan dari murid-murid itu, Al-Qur'an terus hidup.

Maka ada satu pelajaran besar untuk kita semua. Kalau kita menjadi guru, jangan takut memiliki murid yang kelak lebih hebat daripada kita. Justru doakan mereka. Kalau kita menjadi orang tua, jangan takut anak kita melampaui kita. Justru itulah keberhasilan.

Dan kalau kita menjadi santri, jangan hanya mencari guru yang terkenal. Carilah guru yang memiliki sanad, adab dan keikhlasan. Sebab ilmu bukan sekadar informasi. Ilmu adalah amanah. Dan amanah itu harus disampaikan.

Hari ini Krapyak masih berdiri. Kudus masih dikenal sebagai salah satu pusat Al-Qur'an. Para hafidz masih lahir. Para guru masih mengajar. Dan jutaan orang masih membaca Al-Qur'an. Mungkin sebagian dari mereka tidak pernah bertemu Mbah Munawwir. Tidak pernah melihat wajah beliau. Tidak pernah mendengar suara beliau.

Tetapi setiap kali membaca Al-Qur'an melalui sanad yang bersambung kepada beliau, mereka sedang menikmati buah dari perjuangan seorang ulama yang hidup lebih dari seabad lalu. Begitulah ulama hidup. Jasadnya boleh berada di dalam tanah. Tetapi ilmunya terus berjalan.

Semoga Allah merahmati KH Muhammad Munawwir Krapyak dan KH Arwani Amin Kudus, menerima seluruh amal mereka, meninggikan derajat mereka bersama para ulama dan shalihin, serta mengalirkan keberkahan ilmu mereka kepada generasi kita. Al-Fatihah untuk para guru Al-Qur'an kita. (*)