Bagian II: NU dan Kisah Batu Bara di Halaman Pesantren

OPINI & ISU POPULER

Denny JA

9/13/20264 min read

QUBACA.COM - Bagian ini merupakan lanjutan tulisan Deny JA edisi sebelumnya.

Kekuatan Ketiga: Cinta yang Berani Menyediakan Cermin

Kekuatan ketiga buku ini paling saya sukai. Antologi ini tidak mengubah kecintaan kepada NU menjadi kewajiban untuk mengatakan bahwa NU selalu benar.

Ada puisi tentang politik, ada kritik terhadap kekuasaan, ada kegelisahan mengenai khittah. Bahkan ada pertanyaan mengenai keputusan organisasi memasuki bisnis pertambangan.

Bagi saya, ini tanda kesehatan kebudayaan. Organisasi yang hanya mengizinkan pujian mungkin memperoleh tepuk tangan, tetapi organisasi yang mengizinkan kritik memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kesempatan memperbaiki diri.

Sri Sunarti sendiri menyediakan keseimbangan yang dewasa. Ia tidak mengatakan tambang pasti jahat. Ia mengakui bahwa manfaat ekonomi dapat sungguh-sungguh menghasilkan maslahat sosial. Simaklah baris-baris ini:

“Mungkin, di balik hitamnya batu bara,

ada cahaya bagi madrasah,

ada jalan bagi anak-anak desa,

ada rumah sakit yang lebih layak,

ada beasiswa yang menyelamatkan masa depan.”

Tetapi ia segera menambahkan syarat. Keadilan harus dijaga. Kelestarian harus dijaga. Kekayaan bumi tidak boleh membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah penjaga.

Tentu ada kontra argumen. Mengapa organisasi keagamaan harus terus-menerus dicurigai ketika memasuki ekonomi? Bukankah kemandirian ekonomi justru dapat memperbesar pelayanan kepada umat?

Argumen itu sah. Bahkan penting. Kemiskinan bukan kebajikan. Organisasi sosial memerlukan sumber daya untuk sekolah, rumah sakit, beasiswa, dakwah, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Tetapi justru karena tujuannya mulia, standar pertanggungjawabannya harus lebih tinggi. Nama besar tidak boleh menjadi pengganti tata kelola. Niat baik tidak menggantikan transparansi.

Persoalannya bukan apakah NU boleh memasuki kegiatan ekonomi. Persoalannya adalah bagaimana kekuatan ekonomi tetap tunduk kepada etika yang melahirkan khidmah.

Cinta yang matang memang berbeda dari fanatisme. Fanatisme menutup jendela agar wajah keluarga tidak terlihat cacat. Cinta membuka jendela supaya rumah dapat diperbaiki.

Dua Buku untuk Membaca NU Lebih Dalam

Ada dua buku yang membantu saya melihat mengapa puisi-puisi dalam antologi ini mempunyai makna yang melampaui sastra.

Yang pertama, The Religion of Java karya Clifford Geertz, diterbitkan Free Press pada 1960, lahir dari penelitian mendalam mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Jawa.

Geertz memperlihatkan agama bukan hanya kumpulan dalil. Agama menjelma slametan, hubungan sosial, pendidikan, simbol, status, konflik, dan cara masyarakat memberi makna kepada kehidupan sehari-hari.

Pelajarannya sederhana tetapi penting. Untuk memahami NU, kita tidak cukup membaca keputusan organisasi. Kita perlu memasuki kampung dan pesantren.

Kita perlu mendengar tahlil, melihat kenduri, mengenali hubungan santri dengan kiai, bahkan memahami humor, kecemasan, persahabatan, kehilangan, serta cara mereka membayangkan Tuhan.

Buku kedua adalah Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia karya Robin Bush, diterbitkan Institute of Southeast Asian Studies pada 2009.

Bush membawa kita ke sisi lain NU: dinamika kekuasaan, khittah 1926, masyarakat sipil, Reformasi, pluralisme, demokrasi, serta ketegangan antara ideal keagamaan dan realitas politik.

Jika Geertz membantu memahami agama sebagai kebudayaan hidup, Bush membantu memahami organisasi keagamaan ketika memasuki arena kekuasaan, tempat niat, kepentingan, idealisme, dan kompromi bertemu.

Membaca keduanya bersama antologi ini memberikan perspektif yang lebih utuh. NU adalah kebudayaan, tetapi juga institusi. Ia rumah perasaan, sekaligus aktor dalam gelanggang kekuasaan.

Di antara dua dunia itulah puisi menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa di balik organisasi yang besar selalu ada manusia yang dapat berharap, mencintai, ragu, dan keliru.

Sebuah Catatan yang Lebih Personal

Saya membaca buku ini juga sebagai penulis. Karena itu, perhatian saya bukan hanya tertuju kepada NU, melainkan kepada kemampuan sastra menyimpan pengalaman manusia.

Saya telah lama percaya bahwa angka menjelaskan banyak hal, tetapi tidak semuanya. Survei dapat menunjukkan sikap masyarakat. Statistik dapat memotret perubahan secara presisi.

Tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan. Statistik sulit merekam aroma tanah sesudah hujan, suara doa ibu, atau kerinduan kepada seorang kiai.

Di situlah puisi mengambil alih. Ia memasuki ruangan yang tidak dapat dimasuki tabel. Ia membuat pengalaman pribadi memperoleh kemungkinan menjadi ingatan bersama.

Sebagai Ketua Umum Satupena, saya membaca antologi ini dengan kegembiraan khusus. Asosiasi penulis memang seharusnya memperbanyak ruang agar suara yang berbeda dapat terdengar.

Kita tidak harus sepakat dengan setiap puisi. Justru ketidaksepakatan adalah bagian dari kebudayaan. Sastra yang sehat bukan paduan suara yang diwajibkan menyanyikan nada sama.

Saya hidup cukup lama di wilayah riset, politik, kebudayaan, dan dunia korporasi. Dari semuanya, saya belajar bahwa keputusan besar hampir selalu mempunyai sisi yang tidak terlihat.

Spreadsheet memperlihatkan keuntungan. Hukum menunjukkan batas. Politik menghitung dukungan. Tetapi kebudayaan bertanya: manusia seperti apakah yang sedang kita bentuk melalui keputusan itu?

Karena itu saya terhenti pada puisi Sri Sunarti. Bukan karena ia menawarkan jawaban sempurna. Justru karena ia mempunyai keberanian membiarkan pertanyaan tetap hidup.

Pada akhirnya, buku ini penting bukan karena semua puisinya sama kuat. Nilainya justru pada keberaniannya menghadirkan NU sebagai manusia, lengkap dengan cinta, doa, kritik, dan kegelisahannya.

Di sini, batu bara bukan lagi sekadar mineral hitam di bawah bumi. Ia menjadi metafora tentang godaan yang selalu datang bersama kekuasaan dan kemakmuran.

Batu bara dapat menjadi sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja. Karena itu, menolaknya secara otomatis terlalu sederhana. Tetapi menerimanya tanpa pagar moral juga berbahaya.

Sebab setiap kekayaan mempunyai dua kemungkinan. Ia dapat memperbesar maslahat. Ia juga dapat meninggalkan lubang, bukan hanya pada bumi, tetapi pada nurani manusia.

Di sinilah puisi Sri Sunarti menemukan kekuatannya. Ia tidak memberi vonis. Ia menjaga sebuah pertanyaan agar kekuasaan tidak terlalu cepat merasa benar.

Seratus tahun kemudian, orang mungkin lupa perdebatan politik hari ini. Tetapi puisi dapat menyimpan sesuatu yang lebih panjang umurnya: kegelisahan moral sebuah zaman.

Kemajuan akhirnya bukan hanya soal seberapa banyak kekayaan berhasil kita gali. Ia juga tentang apakah kita masih mampu menatap anak cucu tanpa menundukkan muka.

Sebab peradaban tidak diukur dari seberapa dalam manusia mampu menggali bumi, tetapi dari seberapa dalam ia menjaga nuraninya ketika menemukan harta di dalamnya.(*)

Resensi:

Clifford Geertz. The Religion of Java. Free Press, 1960.

Mark R. Woodward. Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. University of Arizona Press, 1989.